Jumat, 18 Maret 2011

Ilmu Pengetahuan Sosial 2.4

Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 1
KOLONIALISME DAN IMPERIALISME
DI INDONESIA
Pendahuluan
Pada paket 4 ini mahasiswa-mahasiswi akan mempelajari tentang
Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia. Paket ini merupakan kelanjutan
dari Paket 3 yang telah dipelajari sebelumnya. Materi ini juga merupakan dasar
pemahaman sebelum masuk ke sejarah Perjuangan kemerdekaan Indonesia
yang dapat dipelajari pada paket 5.
Perkuliahan dimulai dengan meminta pendapat mahasiswa-mahasiswi tentang
kolonialisme dan imperialisme untuk memotivasi mereka. Berikutnya
mahasiswa akan mempelajari materi melalui metode jigsaw learning dengan
panduan LK 4.1.A, LK 4.1.B, LK 4.1.C dan LK 4.1.D. Dosen perlu memberikan
penguatan dan kesempatan untuk bertanya. Untuk mendalami materi
perkuliahan dengan baik, mahasiswa-mahasiswi diminta melakukan pesta
tanya. Dosen diharapkan memberikan arahan terhadap jawaban yang
disampaikan oleh mahasiswa-mahasiswi. Pada akhir perkuliahan dosen
memberikan kesempatan mahasiswa-mahasiswi untuk melakukan refleksi
dan memberikan tugas untuk pertemuan berikutnya.
Ketika mahasiswa-mahasiswi bekerja dalam jigsaw learning tahap 1
sebaiknya semua mahasiswa-mahasiswi mencatat hasil diskusi karena akan
dipresentasikan kepada anggota kelompok yang lain. Pemberian tugas pada
akhir perkuliahan juga perlu diingat karena akan menjadi bahan untuk
perkuliahan berikutnya.
Paket 4
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 2
Rencana Pelaksanaan Perkuliahan
Kompetensi dasar
Menganalisis perkembangan pengaruh Barat dan perubahan ekonomi,
demografi, dan kehidupan sosial budaya masyarakat di Indonesia pada masa
kolonial
Indikator
Pada akhir perkuliahan mahasiswa-mahasiswi diharapkan dapat :
1. menjelaskan sejarah kolonialisme dan imperialisme kuno di Indonesia,
2. menjelaskan perlawanan daerah terhadap praktik kolonialisme dan
imperialisme kuno di Indonesia,
3. menjelaskan sejarah kolonialisme dan imperialisme modern di Indonesia,
4. menjelaskan sejarah lahirnya pergerakan nasional Indonesia,
5. menjelaskan sejarah pendudukan Jepang di Indonesia, dan
6. menjelaskan berbagai dampak kebijakan politik pemerintah pendudukan
Jepang bagi bangsa Indonesia
Waktu
3x50 menit
Materi Pokok
1. Kolonialisme dan Imperialisme Kuno di Indonesia
2. Kolonialisme dan Imperialisme modern di Indonesia
3. Pergerakan Nasional Indonesia
4. Pendudukan Jepang di Indonesia
Kelengkapan Bahan Perkuliahan
1. Lembar Kegiatan LK 4.1.A, 4.1.B, 4.1.C, 4.1.D
2. Lembar Uraian Materi 4.2
3. Lembar PowerPoint 4.3
4. Lembar Penilaian 4.4
5. Alat dan Bahan: LCD dan Komputer, Potongan Kertas sebanyak jumlah
mahasiswa-mahasiswi
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 3
Langkah-langkah Perkuliahan
)
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 4
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 5
Lembar Kegiatan 4.1.A
KOLONIALISME DAN IMPERIALISME
Pengantar
Sebagaimana dijelaskan dalam pendahuluan, pembahasan pertama untuk
paket ini adalah materi tentang Koloniaslisme dan Imperialisme , khususnya
tentang paham politik konservatif dan politik liberal. Mahasiswa dan
mahasiswi telah ditugasi membaca materi tersebut minggu sebelumnya.
Tujuan
Mahasiswa-mahasiswi memahami perbedaan antara Imperialisme Kuno dan
Modern.
Alat dan Bahan
Lembar Uraian materi 4.2.
Langkah Kegiatan
1. Bacalah uraian materi 4.2 khususnya untuk bagian imperialisme!
2. Berdasarkan pada pemahaman materi yang sudah Anda baca pada awal
perkuliahan ini, diskusikan perbedaan dan persamaan antara paham politik
kolonial konservatif dan politik kolonial liberal!
3. Untuk memudahkan kerja Anda, gunakan tabel berikut.
Tabel perbedaan antara imperialisme kuno dan modern
N o Imperialisme Kuno Imperialisme Modern
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 6
Lembar Kegiatan 4.1.B
PERGERAKAN NASIONAL
Pengantar
Pembahasan berikutnya setelah Kolonialisme dan Imperialisme adalah
tentang pergerakan nasional. Dalam pergerakan nasional yang dimulai dari
perjuangan melawan Belanda, mahasiswa-mahasiswi mendalami usaha rakyat
Indonesia dalam melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan.
Tujuan
Mahasiswa-mahasiswi mengenal beberapa pejuang kemerdekaan di beberapa
daerah di Indonesia
Alat dan Bahan
Lembar Materi 4.2.
Langkah Kegiatan
1. Bacalah uraian materi 4.2 khususnya untuk bagian pergerakan nasional!
2. Diskusikan isi materi pergerakan nasional dalam kelompok!
3. Identifikasikan nama dan asal daerah pejuang yang melawan penjajah
Belanda!
4. Untuk memudahkan kerja anda gunakan tabel berikut.
Tabel nama mantan pejuang yang melawan penjajah Belanda
N o Nama Pejuang Waktu dan Peranannya
Daerah
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 7
Lembar Kegiatan 4.1.C
PERGERAKAN NASIONAL
Pengantar
Setelah dapat mengidentifikasi pejuang pergerakan nasional, mahasiswamahasiswi
perlu memahami faktor-faktor penyebab timbulnya pergerakan
nasional Indonesia.
Tujuan
Mahasiswa-mahasiswi memahami faktor penyebab timbulnya pergerakan
nasional.
Alat dan Bahan
Lembar Materi 4.2.
Langkah kegiatan
1. Bacalah uraian materi 4.2 khususnya untuk bagian pergerakan nasional!
2. Diskusikan materi tentang pergerakan nasional!
3. Diskusikan faktor penyebab timbulnya pergerakan nasional!
4. Untuk memudahkan kerja anda gunakan tabel berikut.
Tabel Faktor Penyebab Timbulnya Pergerakan Nasional
N o Penyebab Deskripsi
1. Faktor dari dalam negeri
2. Faktor dari luar negeri
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 8
PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN PENGARUH
PENDUDUKAN JEPANG
Lembar Kegiatan 4.1.D
Pengantar
Setelah memahami faktor penyebab timbulnya Pergerakan Nasional
mahasiswa-mahasiswi perlu memahami materi tentang Pertumbuhan dan
Perkembangan pengaruh pendudukan Militer Jepang dan melakukan analisis
pengaruh pendudukan Jepang tersebut terhadap kehidupan masyrakat di
Indonesia.
Tujuan
Mahasiswa-mahasiswi memahami pertumbuhan dan perkembangan pengaruh
pendudukan militer Jepang dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat
di Indonesia.
Alat dan Bahan
Lembar Materi 4.2.
Langkah Kegiatan
1. Bacalah uraian materi 4.2 khususnya untuk bagian pengaruh pendudukan
jepang!
2. Diskusikan materi pertumbuhan dan perkembangan pengaruh pendudukan
militer Jepang dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia!
3. Analisis pengaruh pendudukan militer Jepang terhadap kehidupan
masyarakat Indonesia!
4. Untuk memudahkan kerja Anda gunakan tabel berikut!
Tabel Bentuk Penindasan Jepang dan Pengaruhnya
N o Bidang Bentuk Pengaruhnya
Tindakan
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 9
Uraian Materi 4.2
KOLONIALISME DAN IMPERIALISME
DI INDONESIA (1800 – 1942)
A.Kolonialisme dan Imperialisme Kuno
Kolonialisme adalah usaha penguasaan atas suatu daerah atau wilayah oleh
negara penguasa. Untuk memperluas daerah tersebut biasanya dilakukan
secara paksa guna mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi
negara penguasa. Bentuk-bentuk kolonialisme adalah sebagai berikut.
Koloni penduduk, yaitu penguasaan suatu daerah baru dimana penduduk
aslinya disingkirkan atau dimusnahkan oleh bangsa pendatang, misalnya
suku Indian di Amerika dan suku Aborigin di Australia.
Koloni eksploitasi, yaitu penguasaan suatu daerah untuk diambil hasil
kekayaan alamnya dan tenaga manusianya dijadikan buruh kerja paksa,
misalnya Indonesia oleh Belanda dan Jepang.
Koloni kelebihan penduduk, yaitu daerah baru yang dipakai untuk
menampung kepadatan penduduk negara induk.
Koloni deportasi, yaitu daerah baru yang dipakai sebagai tempat buangan
para tahanan/ narapidana yang sudah tidak dapat ditangani oleh
pemerintah induknya (Kamsori, 2004, 3).
Imperialisme adalah suatu sistem penjajahan yang dilakukan oleh negara lain
dengan jalan membentuk pemerintahan jajahan dengan menanamkan
pengaruhnya di segala bidang kehidupan serta mengendalikan daerah yang
dijajahnya (Kamsori, 2004:3).
Faktor-faktor penyebab kolonialisme dan imperialisme adalah : pertama,
adanya keinginan menjadi bangsa yang istimewa, contohnya bangsa Jerman
(ras Arya) yang merasa diri paling unggul dan memandang rendah bangsa lain;
kedua, adanya keinginan untuk menjadi bangsa yang kuat yang ditunjang
dengan memiliki peralatan perang yang lengkap dan ingin membuktikan
kekuatan kepada bangsa lain ; ketiga, adanya keinginan untuk mencari
sumber kekayaan alam dan tempat untuk memasarkan hasil industri ;
keempat, adanya keinginan untuk menyebarkan agama dan ideologi, misalnya
Uni Soviet menyebarkan ideologi komunis (Kamsori, 2004:3).
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 10
Kemunduran VOC pada abad XVIII dipercepat dengan perang antara Belanda
dan Inggris pada tahun 1780-1783. Sesudah perang itu berhenti, negara
Belanda dapat memulihkan kembali kekuatan pertahanannya di Asia Tenggara
(Hayati dkk.,1985, 16).
Setelah pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan atas Indonesia,
terjadilah pertentangan pendapat tentang politik yang akan diterapkan di
Indonesia. Golongan progresif menganjurkan poliltik kolonial liberal yang
menghendaki sistem pajak yang dipelopori oleh Dirk van Hogendorp.
Sementara itu golongan konservatif menghendaki sistem dagang dan politik
VOC tetap dipertahankan. Golongan ini berusaha agar tanah jajahan dapat
menghasilkan bahan perdagangan yang merupakan barang penting dalam
perdagangan internasional. Sumbernya terletak pada hasil bumi dari tanah
jajahan. Adapun tokoh golongan konservatif adalah S.C. Nederburgh (Hayati
dkk., 1985, 16).
Kebijakan Kolonial pada Masa Daendels (1808-1811)
Nama lengkapnya yaitu Herman Willem Daendels. Ia datang dan bekerja di
Hindia Belanda atas perintah Perancis. Perancis berhasil mengalahkan koalisi
Austria, Inggris, Spanyol, Sardinia dan Belanda dalam perang Koalisi (1792-
1797). Sehingga daerah kekuasaan Belanda diambil alih oleh Perancis di
bawah Louis Napoleon sejak tahun 1806. Daendels dibebani tugas untuk
mempertahankan Pulau Jawa dari serangan bangsa Inggris. Hal ini disebabkan
beberapa daerah bekas kekuasaan VOC, seperti pantai barat Sumatera,
Ambon, dan Banda telah diduduki Inggris (Kamsory, 2004, 12).
Kekuasaan Daendels berlangsung antara tahun 1808-1811. Kebijakan yang
dijalankan Daendels di Hindia Belanda adalah berikut ini.
Membangun jalan raya pos
Jalan raya pos atau disebut Grote Postweg ini dibangun Daendels dari
Anyer sampai Panarukan. Panjang ruas jalan sekitar 1100 km..
Pembangunan jalan raya pos ini dilakukan dengan sistem rodi (Kamsory,
2004, 12).
Menjalankan Verplichte Levenranties (penyerahan hasil bumi)
Daendels meneruskan aturan yang berlaku masa VOC berkuasa, yaitu
rakyat dipaksa menjual hasil buminya kepada penguasa. Hasil bumi yang
utama adalah kopi karena harganya mahal di Eropa.
Membangun armada militer
Daendels membentuk pasukan yang berasal dari masyarakat pribumi,
dengan membuat persenjataan di Semarang, dan pembangunan benteng
prasarana pertahanan laut.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 11
Membatasi kekuasaan para bupati
yaitu dengan memberikan gaji kepada bupati dan pegawai pemerintahan.
Membagi pulau Jawa menjadi sembilan karisidenan di bawah pengawasan
pemerintah pusat di Batavia.
Kebijakan Pemerintah Kolonial pada
Masa Raffles (1811-1816)
Peristiwa Belanda menyerah kepada Inggris menandai peralihan kekuasaan
atas Indonesia, dari Belanda kepada Inggris. Kemudian Inggris mengangkat
Thomas Stamford Raffles sebagai letnan gubernur di Indonesia, mewakili raja
muda (viceroy) Lord Minto.
Kekuatan politik pemerintahan Raffles berdasarkan azas-azas liberal. Azas
liberal menitikberatkan pada kebebasan dan persamaan manusia. Dengan
azas tersebut, Raffles ingin mewujudkan kebebasan dan penegakan hukum
dalam pemerintahannya.
Pokok-pokok kebijakan Raffles bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Adapun pokok-pokok kebijakan itu adalah :
Segala bentuk penyerahan wajib dan kerja paksa dihapuskan.
Para petani mempunyai kewajiban membayar sewa tanah kepada
pemerintah kolonial.
Kebijakan Pemerintah Kolonial
Hindia Belanda (1811-1900)
Walaupun sistem tanam paksa tidak sengaja ditujukan untuk modernisasi
negara, tetapi rupanya proses itu muncul justru pada masa tanam paksa.
Pada masa tanam paksa terdapat pengaruh-pengaruh baru di bidang
organisasi dan teknik. Meskipun demikian sistem tanam paksa telah
menyebabkan terjadinya kemerosotan moral terutama di kalangan kepalakepala
pribumi ataupun pejabat-pejabat Eropa.
Reaksi terhadap sistem tanam paksa dimulai pada sekitar tahun 1848.
Perdebatan-perdebatan muncul baik dalam parlemen maupun dalam sejumlah
tulisan yang mengutuk sistem itu. Douwes Dekker telah membentangkan
kekejaman sistem itu dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar. Orang lain
yang gigih melawan penyelewengan dari sistem itu adalah Van Hoevell. la
membela kepentingan penduduk pribumi tanpa mencela sistem eksploitasi di
daerah-daerah jajahan untuk kepentingan negara induk. Dua orang ini telah
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 12
berjasa sekali dalam menarik perhatian umum terhadap persoalan—persoalan
kolonial.
Perlawanan Terhadap Kolonialisme Belanda,
Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Indonesia dalam
Menghadapi Belanda
Perlawanan terhadap kekuasaan Belanda pada abad XIX jumlahnya sangat
banyak. Perlawanan itu merupakan bentuk reaksi terhadap kekuasaan kolonial
Belanda dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
• Perlawanan di Jawa. Peperangan itu terjadi pada tahun 1825-1830 di Jawa
Tengah dan Jawa Timur dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan Alibasyah
Sentot Prawirodirdjo.
• Perlawanan di Sumatra Barat. Perlawanan di Sumatera Barat terjadi antara
tahun 1803-1837 diantara tokohnya adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan
Haji Piabang dan juga Imam Bonjol.
• Perlawanan di Bali. Perlawanan terhadap Belanda juga terjadi di Bali antara
tahun 1846-1849. Raja Buleleng menjadi gelisah ketika Belanda menuntut
agar raja melaksanakan isi perjanjian tahun 1841 dan tahun 1843 dipimpin
oleh Patih Buleleng dan Gusti Ketut Jelantik.
• Perlawanan di Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Selatan perlawanan
besar terjadi pada tahun 1859-1905. Perlawanan ini dipimpin oleh Pangeran
Antasari.
• Perlawanan di Aceh. Perlawanan besar lainnya juga terjadi di Aceh antara
tahun 1873-1904, diantara peminpin perlawanan itu adalah panglima Polim,
Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, dan Cut Nya’ Dien.
B.KOLONIALISME DAN IMPERIALISME MODERN
Masa liberalisme di Indonesia (1870-1900)
Sejak kemenangan liberal di Nederland pada tahun 1850, ide liberalisme akan
diterapkan juga di daerah jajahan. Pada prinsipnya pandangan konservatif
maupun liberal terhadap tanah jajahan tetap sama, yakni bahwa tanah jajahan
harus diekspoitasi bagi kepentingan negeri induk. Bedanya, jika konservatif
mengaggap tanah jajahan sebagai perusahaan negara maka liberal
menganggapnya sebagai perusahaan swasta. Oleh sebab itu, kaum liberal
menolak campur tangan pemerintahan.
Jika kita perhatikan situasi dalam periode 1870 - 1885, nampaknya ramalan
kaum Liberal tentang situasi ekonomi Indonesia mendekati kebenaran. Saat
itu ekonomi Indonesia berkembang dengan pesat. Tetapi setelah tahun 1885
laju pertumbuhan semakin seret. Harga beberapa komoditi seperti gula, kopi,
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 13
tembakau dan lain-lain, di pasaran dunia merosot, akibat munculnya negara
produsen baru atau komoditi pengganti seperti gula tebu dengan bit dan
sebagainya. Akibatnya ekspor Indonesia dari tahun ke tahun terus merosot,
sehingga menjelang tahun 1890 harapan kaum Liberal tentang kemakmuran
pribumi semakin pudar bahkan mengecewakan. Adapun faktor penyebab
rendahnya tingkat kemakmuran petani Jawa adalah sebagai berikut.
Ketimpangan antara pertambahan jumlah penduduk dengan alat produksi
(tanah dan modal) yang hal ini merata berlaku di Jawa.
Penindasan yang berlangsung terus-menerus di Jawa, struktur sosial,
iklim tropik dengan berbagai penyakit tropikanya ternyata amat
mempengaruhi produktifitas kerja.
Berlakunya sistem The Burden of Empire menyebabkan beban rakyat
Jawa terlalu berat.
Adanya politik Batig Slot yang terus dipertahankan hingga tahun 1877
ternyata amat merugikan Indonesia, karena adanya surplus modal/
produksi itu seharusnya dapat dimanfaatkan bagi kemakmuran tanah
jajahan.
Rendahnya harga sewa tanah dan upah buruh akibat krisis Gula tahun
1884.
Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap industri swasta.
Adanya hak istimewa bahkan beban pajak bagi para pemuda dan
pegawai kolonial mengakibatkan beban pajak itu ditumpahkan kepada
petani.
C.Pergerakan Nasional Indonesia
Politik Kolonial Belanda pada Akhir Abad XIX
Menjelang akhir abad XIX masyarakat Indonesia merupakan masyarakat
kolonial ‘yang serba terbelakang. Penjajahan serta penindasan mengakibatkan
kemunduran di segala bidang, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya
rnaupun pendidikan.
Di bidang pemerintahan misalnya, semua jabatan-jabatan penting berada di
tangan orang-orang asing, sedangkan bangsa kita hanya menduduki jabatanjabatan
rendah (misalnya : juru-tulis). Penjajahan senantiasa menanamkan
benih-benih perpecahan dengan menjalankan politik “devide et impera” ,
misalnya diadunya antara kaum bangsawan dengan rakyat, antara kaum
terpelajar dengan rakyat, antara golongan yang satu dengan golongan yang
lain. Di bidang ekonomi, keadaan bangsa kita pun sangat menderita. Rakyat
Indonesia berpenghasilan sangat rendah.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 14
Politik baru yang kemudian diperjuangkan terutama bertujuan untuk
mengadakan desentralisasi kesejahteraan rakyat. Politik ini kemudian terkenal
dengan politik etis. Dari kalangan kaum liberal kemudian muncul Van Deventer
sebagai pendukung ide politik kolonial baru.
Selama periode antara 1900-1925 banyak terlihat adanya kemajuan,
pembangunan serta perubahan sebagai berikut.
Desentralisasi
Penibahan-penibahan pemerintahan
Perbaikan kesehatan rakyat serta irigasi
Perbaikan pertanian serta peternakan
Pembangunan irigasi serta lalu lintas
Sesuai dengan perkembangan perusahaan bebas sejak 1870 maka
administrasi perlu diubah berdasarkan prinsip persatuan dan ekonomi
Reorganisasi administrasi bertujuan untuk memperluas otonomi dan efisiensi
kerja. Desentralisasi mencakup tiga hal yaitu:
delegasi kekuasaan dari pusat pemerintahan ke pemerintahan di Hindia
Belanda, dari pemerintah ke departemen, pejabat lokal, dan dari pejabat
Belanda ke pejabat pribumi,
menciptakan lembaga-lembaga otonom yang mengatur urusan sendiri, dan
pemisahan keuangan negeri dari keuangan pribadi.
Menjelang akhir abad XIX perkembangan administrasi sangat pesat banyak
departemen didirikan antara Lain Departemen Pertanian, Departemen Industri
dan Perdagangan. Akhirnya dibentuklah Dewan rakyat (Volksraad) yang
merupakan badan perwakilan dengan anggota 39 orang terdiri dari 19 orang
diangkat dan 20 orang dipilih. Badan ini tidak mempunyai kekuasaan legislatif
dan hanya berwenang memberikan nasihat misalnya mengenai keuangan.
Demikian kejadian-kejadian di atas akhirnya menimbulkan reaksi dikalangan
bangsa Indonesia. Setelah abad XX maka reaksi terhadap kejadian-kejadian
tadi berubah menjadi tindakan nasioalistis yang aktif berwujud gerakangerakan
nasional yang diorganisasi secara modern.
Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
Kata “Pergerakan Nasional Indonesia” mengandung suatu pengertian yang
khas yaitu merupakan perjuangan yang dilakukan dengan organisasi secara
modern ke arah perbaikan taraf hidup bangsa Indonesia yang disebabkan
karena rasa tidak puas terhadap keadaan masyarakat yang ada.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 15
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya pergerakan nasional
Indonesia ada dua, yakni faktor dari dalam negeri dan dari luar negeri.
• Faktor yang berasal dari luar negeri. Timbulnya pergerakan nasional Indonesia
tidak bisa dipisahkan dengan bangkitnya Nasionalisme Asia yang
telah dianggap sebagai reaksi terhadap imperialisme. Selain itu
kemenangan Jepang terhadap Rusia juga merupakan bukti bahwa bangsa
Timur dapat mengalahkan bangsa Barat.
• Faktor yang berasal dari dalam negeri. Adanya pergerakan nasional Indonesia
disebabkan karena adanya rasa tidak puas dari bangsa Indonesia
terhadap penindasan kolonial. Reaksi-reaksi pada masa sebelum tahun
1925 pernah dicetuskan dengan perlawanan bersenjata dan dilakukan
misalnya oleh Pattimura, Di Tiro, Pangeran Diponegoro dan lain-lainnya.
Masa Tahun 1900-1927
Masa antara tahun 1908-1927 sering disebut dengan masa perintis. Masa
kebangkitan nasional dimulai dengan berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20
Mei 1908 yang dirintis oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan didukung Dr.
Soetomo.Setelah Budi Utomo berdiri timbul pula kesadaran golongan Islam
untuk mendirikan organisasi yang di kemudian hari dikenal dengan nama
Sarekat Dagang Islam pada tahun 1911 atas inisiatif Kyai Haji Samanhudi
bersama-sama dengan Mas Tirtoadisuryo. Tujuan semula adalah untuk
memajukan perdagangan, melawan monopoli Cina dan memajukan agama
Islam, kemudian tujuan itu diperluas setelah mendapat desakan dari H.O.S.
Tjokroaminoto sehingga namanya berubah menjadi Sarekat Islam. politik
sehubungan dengan didirikan Volksraad.
Meskipun Budi Utomo dilahirkan tidak sebagai organisasi politik tetapi dalam
perkembangannya organisasi ini didorong untuk terjun ke bidang politik. Hal ini
dapat kita lihat pada peranannya yang aktif dalam persoalan Inlandsche Militie
1915 dan pada waktu Volksraad dari bangsa Indonesia pada tahun 1921.
Sarekat Islam sendiri berubah namanya menjadi Partai Sarekat Islam pada
tahun 1923. Haji Agus Salim mengeluarkan gagasan Pan Islamisme yaitu
suatu usaha untuk memperluas gerakannya tidak hanya di dalam negeri saja,
tetapi juga ke luar negeri dengan mengadakan hubungan dengan gerakan
Islam di luar negeri.
Pada tahun 1927 Partai Sarekat Islam merubah haluan perjuangan yaitu
mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam dan
menggabungkan kedalam PPPKI.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 16
Pada tahun 1929 Partai Sarekat Islam menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia,
walaupun terjadi lagi perpecahan dan masing-masing membentuk aliran antara
lain Aliran Kartosoewiryo, aliran Abikusno dan aliran Soekiman.
Kebangkitan Budi Utomo dan Sarekat Islam kemudian diikuti dengan
timbulnya organisasi-organisasi lainnya. Pada sekitar tahun 1914 timbul
beberapa organisasi yang bersifat kedaerahan diberbagai tempat. Kebanyakan
organisasi-organisasi tersebut bertujuan ingin menunjukkan kebudayaan
daerah. Organisasi-organisasi tersebut antara lain : Sarekat Sumatra (1918),
Pasundan (1914). Tujuan politik kedua organisasi tersebut antara lain
memperluas hak pemerintah daerah.
Di daerah Minahasa tumbuh gerakan seperti di atas antara lain Rukun
Minahasa (1915) yang dipimpin oleh Waworuntu, Sam Ratulangi dan lainlainnya.
Serta Jong Minahasa.
Di Ambon terdapat juga gerakan-gerakan serupa yaitu : Ambonsch Studiefond
(1909) dan Amon’s Bond (1911). Di Jawa terdapat gerakan-gerakan seperti Tri
Koro Dharmo (1915) yang pada tahun 1918 diubah menjadi Jong Java. Ada
pun tujuan dari perkumpulan ini adalah membangun suatu Persatuan Jawa
Raya yang akan dicapai dengan jalan mengadakan ikatan yang erat di antara
anak-anak sekolah menengah bangsa Indonesia, berusaha menambah
kepandaian anggota-anggota dan menimbulkan rasa cinta pada kebudayaan
sendiri.
Di Bandung 1907 didirikan Insulinde yang kemudian pada tahun 1912 namanya
berubah menjadi Indische Partij dengan tujuan Indonesia merdeka. Partai
ini merupakan satu-satunya partai di Hindia Belanda pada masa itu yang
telah berani mengumandangkan Indonesia merdeka (Indie merdeka).
Para pemimpin Indische Partij karena adanya larangan partai maka para
pemimpinnya yang terdiri dari Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Soewardi
Soeryaningrat dihukum dan diasingkan ke Negeri Belanda pada tahun 1913.
Soewardi Soeryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) kemudian menjadi terkenal
dikalangan pergerakan karena tulisannya yang mengecam dengan pedas
pemerintah kolonial Belanda berjudul : “Als ik een Nederlander was” pada
tahun 1913.
Di samping itu timbul juga gerakan-gerakan yang bersifat sosial, pendidikan
dan keagamaan. Gerakan ini antara lain Muhamadiyah (1912) yang didirikan
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 17
oleh K.H Achmad Dahlan. Gerkan ini menginginkan adanya reformasi dalam
agama Islam, membersihkan agama dari pengaruh tradisi, memajukan
pengajaran berdasarkan agama Islam.
Masa Tahun 1927 – 1942
Masa 1927-1942 sering disebut sebagai masa penegas dari masa pencoba.
Pada masa ini gerakan-gerakan nasional sadar dan percaya kepada kekuatan
sendiri. Mereka dengan tegas menyatakan bahwa tujuannya adalah
kemerdekaan Indonesia.
Perhimpunan Indonesia. Pada masa sekitar tahun l908 oleh para pelajar
yang belajar di Negeri Belanda didirikan suatu perkumpulan pelajar
“indische Vereniging”. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa cita-cita
Perhimpunan Indonesia bersifat radikal nasionalisme. Mereka sadar akan
kekuatan mereka sendiri, oleh karena itu mereka bersikap nonkooperasi
terhadap pemerintah kolonial Belanda. Asas politik baru di atas menyadarkan
dan menyakinkan para pemuda pergerakan lainnya dalam melaksanakan citacita
bersama mencapai kemerdekaan Indonesia. Perhimpuhan Indonesia
merupakan pelopor asas politik baru bagi Indonesia.
Partai Nasional lndonesia. Tindakan-tindakan studieclub-studieclub serta
pengaruh perhimpunan Indonesia mendorong pemimpin-pemimpin muda
pergerakan di kota Bandung untuk mendirikan suatu partai politik baru
yaitu Partai Nasional Indonesia pada tanggal 4 Juli 1927.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Suatu kejadian penting dalam sejarah
Indonesia ialah peristiwa tanggal. 28 Oktober 1928 yang melahirkan suatu
sumpah yaitu Sumpah Pemuda.. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya
berbagai perkumpulan kedaerahan seperti JONG JAVA, SUMATRANEN
BOND, BOND VAN AMBONCHE STUDEREDEN dan sebagainya. PPPKI
yang berhasil menghimpun organisasi-organisasi pergerakan nasional
Indonesia untuk bersatu dalam mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Ternyata ide persatuan ini menentukan arah gerakan nasional Indonesia lebih
Ianjut. Beberapa pemuda revolusioner seperti Moh. Yamn, J. Leimena, W.R.
Supratman, A.K. Gani, Sujono Hadinoto, Rohjani dan lain-lainnya telah
memprakasai mengadakan konperensi yang bertujuan mempersatukan
pemuda-pemuda Indonesia. Pada tanggal 28 Oktober 1928 jam 23.00 di
Wisma Indonesia, Jl. Kramaat 106 Jakarta dengan khidmat dikumandangkan
Sumpah pemuda.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 18
D. Masa Pendudukan Jepang
Pengekangan Politik terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
Jepang adalah satu-satunya negara di benua Asia yang tidak pernah
mengalami penjajahan bangsa-bangsa Barat. Bangsa Jepang mulai
berhubungan dengan bangsa-bangsa Barat pada permulaan abad ke 20.
Setelah berhasil menjadi negara industri modern, maka Jepang membutuhkan
daerah untuk memperoleh bahan-bahan mentahnya maupun untuk menjual
hasil barang-barangnya. Daerah yang diinginkan Jepang adalah negeri-negeri
Asia, yang pada waktu itu telah dijajah atau setidak-tidaknya dikuasai
ekonominya oleh bangsa-bangsa Barat. Untuk mendapatkan daerah Asia yang
kaya dan padat penduduknya itu, Jepang harus merebutnya dengan kekerasan
dari bangsa-bangsa Barat. Perang perebutan jajahan antara Jepang dengan
negara-negara Barat di Asia yang berlangsung selama kurang lebih 3.5 tahun
(1941-1945) dinamai Perang pasifik sedangkan orang Jepang menyebutnya
Perang asia Timur Raya. Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang menyerang
Pearl Habour di Hawai yakni pangkalan Angkatan Laut AS yang terbesar di
Pasifik. Setelah Jepang menyerang Pearl Harbour, maka gubernur Jenderal
hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Segera Jepang bergerak ke
selatan dengan taktik gerak cepat yang unggul. Dalam jangka waktu kurang lebih
100 hari Jepang berhasil menumbangkan kekuasaan kolonial Inggris di Malaya
dan Birma, AS di Filiphina dan Belanda di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda
menyerah tanpa syarat di Kalijati, Jawa Barat, pada tanggal 8 Maret 1942.
Sejak saat itu berakhirlah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia,
dan dengan resmi ditegakkan kekuasaan Jepang. Berbeda dengan zaman
Hindia belanda di mana terdapat pemerintahan sipil, maka pada zaman Jepang
terdapat pemerintahan militer. Pulau Jawa dan Sumatra diperintah oleh Angkatan
Darat, sedangkan daerah Indonesia lainnya diperintah oleh Angkatan Laut
Jepang. Jepang berusaha mengerahkan semua orang Asia untuk usaha
perangnya. Jawatan propaganda Jepang giat melancarkan propaganda yang
pokoknya adalah adalah bahwa Jepang mengobarkan perang Asia Timur Raya
untuk membebaskan seluruh Asia dari penjajahan Barat dan kemudian
mendirikan “Pergerakan Tiga A” yang bersemboyan : Nippon Cahaya Asia,
Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. (Orang Jepang menemakan
bangsa dan negerinya “Nippon”). Pergerakan Tiga A mengadakan kursuskursus
untuk pemuda dengan tujuan menanamkan semangat pro Jepang.
Pergerakan Tiga A ini dipimpin oleh Mr. Syamsuddin, bekas anggota Parindra
pada zaman Hindia Belanda.
Pergerakan Tiga A tidak begitu mendapatkan hasil karena organisasi ini tidak
dipimpin oleh pemimpin Indonesia terkemuka. Pemerintah militer Jepang
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 19
memerlukan dukungan penduduk dan untuk itu diperlukan kerjasama dengan
tokoh-tokoh nasionalis terkemuka. Tokoh-tokoh nasionalis termasuk Ir.
Soekarno dan Drs. Moh. Hatta telah dibebaskan oleh pemerintah militer
Jepang dari tahanan pemerintah Hindia Belanda. Kedua pemimpin itu yang
pada zaman Hindia Belanda bersikap non kooperasi, pada zaman Jepang
terpaksa bersedia bekerja sama dengan pertimbangan bahwa untuk
menghadapi pemerintah pendudukan Jepang yang kejam itu rakyat perlu
mempunyai pembela. Soekarno dan Hatta mengubah taktik mereka, dan
berusaha memanfaatkan sarana yang disediakan oleh Jepang untuk
perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Pemimpin lainnya
seperti Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin dapat menghindari kerjasama
dengan Jepang, karena mereka kurang dikenal. Amir Syarifudin kemudian
ditangkap oleh Jepang dan akan dijatuhi hukuman mati karena dituduh
menjadi mata-mata Serikat. Berkat usaha Soekarno dan Hatta, Amir
Syarifuddin berhasil diselamatkan dari hukuman mati.
Setelah pergerakan Tiga A dianggap tidak memberikan keuntungan oleh
Jepang, maka organisasi ini dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuk “Pusat
Tenaga Rakyat” (Putera) yang diresmikan pada tanggal 1 Maret 1943, Putera
dipimpin oleh Empat Serangkai yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, K.H. Mas
Mansur dan Ki Hadjar Dewantara. Kerjasama dengan Jepangini kemudian
diikuti golongan nasionalis lainnya seperti Prof. Dr. Mr. Supomo, Mr Ahmad
Subardjo dan Dr. G.S.S.J. Ratulangie.
Putera disusun mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah terutama di Jawa.
Empat Serangkai dianggap oleh Jepang sebagai lambang daripada aliranaliran
di dalam Pergerakan Nasional Indonesia, yang dapat menggerakkan
seluruh rakyat Indonesia untuk kepentingannya. Dalam pada itu pemimpinpemimpin
Putera bertujuan untuk mempersiapkan rakyat Indonesia guna
kemerdekaan, yang menurut perhitungan mereka besar kemungkinannya akan
tercapai pada akhir Perang Dunia II. Dengan demikisan Putera berhasil
mendekati rakyat, dan para pemimpin dapat mempersiapkan rakyat secara
mental bagi kemerdekaan. Dengan rapat-rapat raksasa, para pemimpin Indonesia
dapat mencapai rakyat secara lebih luas. Akhirnya pihak jepang
menyadari bahwa Putera lebih bermanfaat bagi rakyat Indonesia daripada bagi
Jepang karena kurang menunjukkan dukungan kepada pemerintah
pendudukan Jepang. Karenanya mereka mulai memikirkan pembentukan
organisasi baru, yang mencakup semua golongan masyarakat dan dapat
dikendalikan secara ketat.
Pengendalian terhadap kegiatan orang Indonesia dilakukan dengan sangat
ketat oleh Jepang. Semua kegiatan, lebih-lebih kegiatan politik harus diketahui
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 20
dan dipimpin oleh Jepang serta dipergunakan untuk kepentingan mereka.
Dalam pada itu organisasi Islam yang tidak melakukan kegiatan politik
dibiarkan oleh Jepang, seperti Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Jepang
menghargai golongan Islam, karena golongan ini dinilai oleh Jepang yang
paling anti Barat, MIAI harus turut bekerja dengan sekuat tenaga untuk
mencapai “Lingkungan Kemakmuran Bersama” dibawah pimpinan Jepang.
Pemimpin MIAI diserahkan kepada Wondoamiseno dan K.H. Mas Mansur.
Jepang mengerahkan tenaganya untuk membantu kegiatan MIAI seperti
pengumpulan zakat dan mendirikan mesjid. Bantuan Jepang ini berhasil
dimanfaatkan oleh pemuka-pemuka Islam untuk kepentingan umat Islam di
Indonesia. MIAI sebagai organisasi tunggal mendapat simpati yang luar biasa
dari umat Islam Indonesia. Setelah MIAI menjadi besar, maka pemerintah
Jepang mulai curiga sehingga kegiatannya mulai diawasi. Pada akhir 1943 MIAI
dengan resmi dibubarkan. Secara lahiriah pemerintah Jepang berhasil
menindas Pergerakan nasional Indonesia, tapi secara batiniah Pergerakan
Nasional Indonesia tetap hidup. Semangat dan kesadaran nasional semakin
meningkat pada zaman pendudukan Jepang ini.
Politik Pengerahan Usaha perang Jepang
Memasuki tahun 1944 keadaan perang Pasifik bagi Jepang semakin gawat.
Satu demi satu daerah pendudukan Jepang jatuh ke tangan Serikat, bahkan
serangan mulai diarahkan ke negeri Jepang sendiri. Untuk meningkatkan
kesiapan-kesiapan rakyat Indonesia, maka pada tanggal 14 September 1944
dibentuk Barisan Pelopor sebagai bagian dari Jawa Hokokai, dan pada bulan
April 1943 dikeluarkan pengumuman yang memberi kesempatan kepada
pemuda Indonesia untuk menjadi pembantu prajurit Jepang (Heiho). Para
anggota Heiho ini langsung ditempatkan di dalam organisasi militer Jepang
baik Angkatan darat maupun Angkatan Laut. Sesuai dengan tuntutan perang
yang makin mendesak, Jepang juga membentuk Tentara Sukarela Pembela
Tanah Air (Peta). Pada tanggal 3 Oktober 1943 Panglima tentara Jepang di
Jawa memaklumkan pembentukan PETA.
Sesuai dengan pembentukan PETA di pulau Jawa, maka di Sumatra dibentuk
Giyugun (Tentara sukarela). Dengan adanya tentara sukarela itu timbul suatu
golongan yang memperoleh pendidikan militer pada zaman pendudukan Jepang
; mereka menjadi golongan penting dalam masyarakat Indonesia. Sesudah
Indonesia merdeka, banyak diantara mereka yang menjadi pemimpin Tentara
Nasional Indonesia (TNI), seperti Jendral Soeharto, Sudirman, Gatot Subroto,
Ahmad yani dan masih banyak lagi. Kalau Heiho adalah bagian dari tentara
Jepang, maka Peta adalah tentara Indonesia yang dilatih oleh Jepang. Jepang
mengharapkan organisasi-organisasi militer maupun semimiliter Indonesia itu
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 21
membantu mereka dalam perang Asia timur raya. Harapan Jepang ini sebagian
besar tidak terlaksana, karena para pemimpin Indonesia yang bekerja sama
dengan Jepang, berhasil menanamkan semangat nasionalisme di kalangan
pemuda. Lebih-lebih pemuda hasil didikan PETA, yang kebanyakan terdiri dari
pelajar-pelajar sekolah, dapat menangkap apa yang tersurat oleh para
pemimpinnya.
Penindasan Sosial Ekonomi Masa Pendudukan Jepang
Pemerasan Bahan Makanan
Selain mengadakan pengerahan terhadap masyarakat Indonesia, pemerintah
pendudukan Jepang juga mengadakan pemerasan terhadap ekonomi
Indonesia. Sesuai dengan situasi perang pada waktu itu, kegiatan ekonomi
juga diarahkan kepada kepentingan perang. Jepang berusaha menguasai dan
mendapatkan sumber-sumber bahan mentah untuk industri perang. Selain dari
itu Jepang juga mempunyai rencana untuk memotong sumber perbekalan
musuhnya di negara-negara Asia. Penguasaan wilayah yang kaya akan bahanbahan
mentah akan meringankan beban Jepang dalam perang. Dalam
melaksanakan rencananya, Jepang menempuh dua tahap. Tahap pertama
adalah penguasaan dan tahap kedua adalah penyusunan kembali ekonomi
daerah jajahan untuk memenuhi kebutuhan bahan-bahan perang.
Pemerintah pendudukan langsung mengawasi perkebunan kopi, kina, karet
dan teh. Pemerintah juga memegang monopoli pembelian, dan menentukan
harga penjualan hasil perkebunan itu. Sebagai pelaksana pengawasan
perkebunan, pemerintah Jepang menunjuk pihak swasta Jepang. Perkebunan
diharapkan menunjang usaha perang yang dilakukan pemerintah pendudukan
Jepang. Yang kurang berguna bagi usaha perang seperti perkebunan
tembakau, teh dan kopi dibatasi pengusahaannya. Sebagai pengganti kopi,
teh, dan tembakau, ditanam bahan makanan dan jarak. Khusus tanaman jarak
sangat dibutuhkan oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk pelumas
mesin-mesin termasuk mesin pesawat terbang.
Kebun-kebun tembakau di Sumatra banyak yang dimusnahkan untuk
kemudian ditanami jarak. Begitu juga di daerah-daerah lain banyak tanaman
yang sedang menghasilkan, dimusnahkan untuk diganti dengan tanaman jarak.
Selain jarak, tanaman kina juga sangat dibutuhkan yakni untuk pembuatan obat
anti malaria, karena penyakit itu dapat melemahkan kemampuan tempur para
prajurit. Dii Jawa Timur dan Sumatra hampir seluruh perkebunan karet
diusahakan kembali. Bahkan di Kalimantan hasil karet menjadi berlebih (surplus)
karena kesulitan pengangkutan. Pabrik gula yang dibumihanguskan oleh
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 22
pemerintah Hindia belanda, kembali dibangun oleh pemerintah pendudukan
Jepang. Pengerahan kebutuhan perang semakin lama semakin meningkat.
Jawa Hokokai giat melakukan kampanye untuk meningkatkan usaha
pengadaan pangan, khususnya beras dan Jagung. Tanah pertanian baru bekas
perkebunan, dibuka untuk menambah produksi beras. Di Sumatra Timur
daerah bekas perkebunan seluas ribuan hektar ditanami kembali. Daerah
pertanian baru di Karo juga dibuka dengan menggunakan tenaga para
tawanan. Di Kalimantan dan Sulawesi juga dibuka tanah pertanian baru untuk
menambah hasil padi. Di samping itu makin digiatkan juga penebangan
tanaman kenikmatan seperti kopi dan teh untuk diganti dengan tanah
pertanian. Pemerintah militer Jepang telah pula mengadakan penebangan
hutan secara liar yang menyebabkan kerusakan hutan yang luar biasa. Pada
masa itu di pulau Jawa saja telah dilakukan penebangan hutan secara liar
seluas 500.000 hektar, dengan alasan akan dijadikan tanah pertanian. Tetapi
sebaliknya pihak Jepang tidak pernah memperkenalkan cara bertani modern
sebagaimana yang telah dilakukan di Jepang pada waktu itu. Mereka hanya
memeras hasil, tanpa memodernisasi sistem pertanian. Tenaga-tenaga
Jepang yang dipakai sebagai penyuluh pertanian bukanlah orang-orang yang
ahli dalam bidang pertanian, sedangkan orang Indonesia yang hanya dilatih
dalam waktu pendek tidak mampu mengerjakan pertanian dengan baik.
Karena itu produksi bahan makanan, terutama beras, terus menerus merosot.
Faktor lain yang sangat mempengaruhi adalah meningkatnya pemotongan
hewan tanpa perhitungan, sehingga jumlah hewan makin menurun. Hewan
mutlak perlu untuk pertanian, sehingga juga ikut mempengaruhi turun naiknya
produksi pangan. Produksi pangan, terutama beras, semakin menurun, dan
kehidupan rakyat semakin lama semakin susah. Dalam keadaan yang
demikian, rakyat dipaksa menyerahkan sebagian besar hasil sawahnya
kepada pemerintah pendudukan. Rakyat hanya dibolehkan memiliki 20 % saja
dari jerih payahnya.
Setiap kali musim panen, sebagian harus diserahkan kepada pemerintah dan
sebagian lagi harus disetor sebagai bibit kepada lumbung desa. Padi yang
disetor kepada pemerintah dibeli dengan harga yang sangat murah sekali.
Karena besarnya beda harga beras di pasaran bebas dengan harga pembelian
padi oleh pemerintah pendudukan, timbul kemacetan di dalam penyetoran
padi. Sebagian besar padi lari ke pasar gelap. Sebenarnya gagalnya
penyetoran padi kepada pemerintah terutama disebabkan karena perlawanan
diam-diam oleh rakyat desa kepada pemerintah Jepang. Disamping rakyat
dituntut untuk menyetor padi dan menaikkan produksi padi mereka masih
dibebani tambahan yang bersifat wajib seperti menanam dan memelihara jarak.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 23
Pekerjaan semacam ini mengurangi waktu kerja pertanian.
Akibat pemerasan yang dilakukan dalam bidang makanan oleh pemerintah
pendudukan Jepang, maka rakyat menjadi sangat miskin dan sengsara
hidupnya. Makanan sangat kurang, lebih-lebih makanan yang bergizi,
sehingga menyebabkan tenaga kerja jauh berkurang. Penyakit akibat
kekurangan makanan merajalela, belum lagi ditambah dengan timbulnya
bencana alam. Masalah pokok lainnya yang menyangkut kehidupan rakyat
adalah masalah sandang (pakaian). Sebelum pendudukan Jepang masalah
sandang di Indonesia sangat tergantung pada import. Tetapi semenjak
pendudukan Jepang, Indonesia harus mengusahakan sendiri bahan
pakaiannya. Caranya adalah dengan mengusahakan percobaan
penanaman kapas di beberapa daerah seperti Cirebon, Malang, Kediri dan
Besuki. Sementara itu di Sulawesi, Sumatra, Bali dan Lombok juga
diusahakan penanaman kapas. Usaha pemintalan kapas dilakukan secara
menyeluruh, tetapi karena kekurangan bahan baku , usaha itu terpaksa
dihentikan. Akibatnya rakyat kekurangan pakaian. Di pedesaan sebagian besar
rakyat telah mulai memakai pakaian dari karung goni. Akibat pemerahan yang
dilakukan oleh pemerintah pendudukan Jepang dalam bidang ekonomi,
keadaan penghidupan rakyat menjadi parah. Segala penghasilan rakyat
dipakai untuk kepentingan perang. Kekayaan rakyat dikuras sampai
pengumpulan pagar-pagar besi pekarangan rumah penduduk. Kemelaratan
meluas dan kelaparan berjangkit di seluruh Indonesia.
Pemerasan Tenaga Manusia
Pemerasan tenaga manusia pada zaman pendudukan Jepang dilakukan
terhadap semua golongan dalam masyarakat Indonesia, baik orang kota
maupun orang desa, mulai dari yang terpelajar sampai kepada yang buta huruf
sekalipun. Semuanya diperah untuk usaha perang. Golongan yang paling
sengsara pada zaman pendudukan Jepang adalah golongan Romusha.
Mereka dipekerjakan dengan secara paksa oleh pihak Jepang, terutama pada
objek-objek militer seperti membuat lapangan terbang, membuat kubu-kubu
pertahanan dan membuat jalan kereta api. Tenaga –tenaga romusya ini
kebanyakan diambil dari desa-desa dan umumnya terdiri dari mereka yang
tidak bersekolah, atau paling tinggi tamat sekolah dasar. Pada mulanya
mereka dibujuk untuk menjadi romusya, kalau tidak berhasil dibujuk barulah
dilakukan pemaksaan. Pulau Jawa sebagai pulau yang padat penduduknya,
memungkinkan pengerahan tenaga tersebut secara besar-besaran. Pada
mulanya tugas-tugas yang dilakukan oleh romusya itu bersifat sukarela.
Pengerahan tenaga tidak begitu sukar dilakukan karena orang masih
dipengaruhi oleh propaganda untuk kemakmuran bersama Asia Timur Raya.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 24
Akan tetapi lama-kelamaan pengerahan romusha itu dirasakan sebagai
paksaan, dan menjadi suatu beban yang berat. Karena tenaga romusha ini
diambilkan dari petani-petani di desa, maka hal ini mempunyai pengaruh
terhadap kesdaan ekonomi desa. Ekonomi desa semakin mundur, karena
tenaga petani dipakai di tempat lain. Dalam pada itu perlakuan terhadap
romusya sangat buruk sekali. Kesehatannya tidak dijamin, makanan tidak
cukup dan pekerjaan terlalu berat. Akibatnya banyak tenaga romusya yang
meninggal di tempat pekerjaannya.
Pengerahan tenaga romusha tersebut telah membawa akibat pula dalam
struktur sosial di Indonesia. Banyak pemuda-pemuda tani yang menghilang
dari desanya, karena mereka takut dikirim sebagai romusya. Apalagi
pemerintah Jepang bertindak lebih jauh lagi di mana hampir semua laki-laki
sehat diambil. Di desa hanya tinggal kaum wanita, anak-anak dan orang-orang
yang cacat. Para romusya yang selamat kembali ke desanya mempunyai
pengalaman-pengalaman banyak dalam bebagai bidang. Mereka yang datang,
membawa gagasan-gagasan baru, sehingga desa terbuka untuk perubahan.
Begitu pun mereka yang lari ke kota-kota dan menengok desanya, ikut
membawa pengalaman-pengalaman baru. Untuk memudahkan pemerahan
tenaga manusia maupun untuk lebih sempurna mengawasi penduduk, pihak
Jepang menyusun tonarigumi (rukun tenaga) di setiap kampung dan desa.
Pemerahan tenaga yang dilakukan oleh pemerintah penduduk Jepang
terhadap rakyat Indonesia, pada umumnya mendorong perubahan sosial.
Pemuda yang bekerja sebagai romusha maupun pemuda yang lari ke kota dan
kemudian kembali ke desanya membawa pandangan-pandangan baru ke
desanya. Mereka juga menjadi naik derajatnya (statusnya) dibandingkan
dengan mereka yang tetap menjadi petani di desanya. Apalagi ribuan orang di
antara mereka yang menjadi anggota organisasi semi militer, seperti
seinendan dan Keibodan yang juga mendapat pengalaman dan keahlian baru.
Terlebih-lebih lagi mereka yang dididik dalam Peta dan heiho, terutama yang
menjadi perwira. Pengalaman-pengalaman seperti itu jarang diperoleh rakyat
Indonesia pada zaman Hindia Belanda.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 25
Rangkuman
• Kolonialisme adalah usaha penguasaan atas suatu daerah atau wilayah
oleh negara penguasa.
• Pertentangan pendapat antara golongan konservatif dengan golongan
liberal yang keduanya mempunyai konsep-konsep yang berbeda tentang
cara menggali keuntungan dari tanah jajahan. Politik kolonial konservatif
menghendaki sistem VOC tetap dipertahankan karena terdapat pengeruk
kekayaan secara cepat. Sedang politik kolonial liberal menghendaki caracara
baru yang berdasarkan atas ide kebebasan.
• Daendels telah melakukan perombakan sistem pemerintahan secara
radikal menurut sistem Barat. Usahanya dilanjutkan dan disempurnakan
oleh Raffles serta penguasa-penguasa Barat yang datang kemudian.
Terciptalah sistem birokrasi Barat modern. Pemerintahan Barat juga telah
mendorong timbulnya pembaharuan masyarakat dan modernisasi.
• Pergerakan nasional Indonesia adalah pergerakan yang bercita-cita
nasional yaitu bercita-cita mencapai Indonesia merdeka, merupakan
perjuangan yang dilakukan dengan organisasi secara modern ke arah
perbaikan taraf hidup bangsa Indonesia yang disebabkan karena rasa tidak
puas terhadap keadaan masyarakat yang ada.
• Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya pergerakan nasional Indonesia
ada dua, yakni faktor dari luar negeri dan dari dalam negeri.
• Faktor dari luar negeri, timbulnya pergerakan nasional Indonesia tidak bisa
dipisahkan dengan bangkitnya Nasionalisme Asia yang telah dianggap
sebagai reaksi terhadap imperialisme. Selain itu kemenangan Jepang
terhadap Rusia juga merupakan bukti bahwa bangsa Timur dapat
mengalahkan bangsa Barat.
• Faktor dari dalam negeri, adanya pergerakan nasional Indonesia
disebabkan karena adanya rasa tidak puas dari bangsa Indonesia terhadap
penindasan kolonial. Reaksi-reaksi pada masa sebelum tahun 1925 pernah
dicetuskan dengan perlawanan bersenjata dan dilakukan misalnya oleh
Pattimura, Di Tiro, Pangeran Diponegoro dan lain-lainnya.
• Pengendalian terhadap kegiatan orang Indonesia dilakukan dengan sangat
ketat oleh Jepang. Semua kegiatan, lebih-lebih kegiatan politik harus
diketahui dan dipimpin oleh Jepang serta dipergunakan untuk kepentingan
mereka demikian pula dalam bidang sosial ekonomi juga mengalami
penindasan makanan dan tenaga kerja yang dieksploitasi untuk
kepentingan Jepang
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 26
Lembar Powerpoint 4.3
KOLONIALISME DAN
IMPERIALISME
DI INDONESIA (1800-1942)
QUIZ
Apa yang anda ketahui tentang
kolonialisme?
Apa yang anda ketahui tentang
imperialisme?
KOMPETENSI DASAR
Menganalisis perkembangan
pengaruh Barat dan perubahan
ekonomi, demografi, dan
kehidupan sosial budaya
masyarakat di Indonesia pada
masa kolonial
INDIKATOR
• Menjelaskan sejarah kolonialisme
dan imperialisme kuno di Indonesia
• Menjelaskan perlawanan daerah
terhadap praktik kolonialisme dan
imperialisme kuno di Indonesia
• Menjelaskan sejarah kolonialisme
dan imperialisme modern di
Indonesia
• Menjelaskan sejarah lahirnya
pergerakan nasional Indonesia
• Menjelaskan sejarah pendudukan
Jepang di Indonesia
• Menjelaskan berbagai dampak
kebijakan politik pemerintah
pendudukan Jepang bagi bangsa
Indonesia
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 27
DISKUSI TAHAP 1
Mahasiswa-mahasiswi dibagi
dalam empat kelompok.
Tiap kelompok melakukan
small discussion:
Kel. 1 dengan LK 4.1.A
Kel. 2 dengan LK 4.1.B
Kel. 3 dengan LK 4.1.C
Kel. 4 dengan LK 4.1.D
DISKUSI TAHAP 2
Mahasiswa-mahasiswi dibagi
lagi dalam empat kelompok
yang anggotanya terdiri dari
perwakilan kel 1,2,3, dan 4..
Tiap kelompok melakukan
Presentasi hasil kerja Diskusi
Kelompok
PENGUATAN DAN TANYA
JAWAB
KOLONIALISME
Usaha penguasaan atas suatu daerah/
wilayah oleh negara penguasa.
IMPERIALISME
Suatu sistem penjajahan yang
dilakukan oleh suatu negara dengan
jalan membentuk pemerintahan jajahan
dengan menanamkan pengaruhnya di
segala bidang kehidupan serta
mengendalikan daerah yang dijajahnya
KOLONIALISME DAN
IMPERIALISME KUNO
DI INDONESIA
• Kedatangan bangsa Eropa di Indonesia
• kebijakan pemerintah Kebijakan
kolonial dan pengaruhnya terhadap
kehidupan ekonomi rakyat di
berbagai daerah (masa
Daendels,Raffles, Hindia Belanda)
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 28
PESTA TANYA
Setiap kelompok membuat
pertanyaan sekaligus dengan
jawabannya, kemudian di lempar
ke kelompok lain untuk dijawab
REFLEKSI
DAN
TINDAK
LANJUT
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 29
Lembar Penilaian 4.4
Tes Tulis
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar ! (bobot masingmasing
5)
1. Jelaskan perubahan dari struktur birokrasi tradisional ke arah struktur
birokrasi modern pada abad XIX!
2. Jelaskan dampak sistem tanam paksa bagi penduduk pribumi!
3. Jelaskan sebab-sebab pecahnya Perang Diponegoro yang terjadi pada
tahun 1825-1830!
4. Apakah yang menjadi motivasi kerajaan-kerajaan di Indonesia menentang
kolonial?
5. Uraikan secara jelas konsep-konsep pemikiran liberal dalam bidang
ekonomi!
6. Bagaimana prinsip-prinsip liberalisme diterapkan di Indonesia?
7. Mengapa pada zaman kolonial kesempatan memperoleh pendidikan hanya
diberikan kepada orang-orang tertentu saja?
8. Apa yang dimaksud dengan politik etis dan siapa saja tokoh-tokohnya?
9. Terangkan langkah-langkah kebijaksanaan pemerintah kolonial pada awal
abad xx untuk melindungi rakyat!
10. Jelaskan tujuan politik “devide et impera” yang dijalankan oleh Belanda!
11. Apa arti dari pergerakan nasional?
12. Jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan timulnya pergerakan nasional!
13. Terangkan Gol mana saja yang terlibat dalam pergerakan nasional Indonesia!
14. Carilah informasi tentang biografi mantan pejuang yang terlibat dalam
pergerakan nasional di daerah anda sebanyak 3 orang (apabila ada)!
15. Mengapa masa 1900-1927 disebut masa perintis?
16. Apa tujuan Budi Utomo pada awal berdirinya?
17. Apa tujuan Sarekat Dagang Islam pada awal berdirinya?
18. Jelaskan usaha para pemuda Indonesia dalam rangka mempersatukan
rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan Indonesia!
19. Apa tujuan Perhimpunan Indonesia didirikan?
20. Jelaskan lahirnya sumpah pemuda!
Arti Tingkat Penguasaan yang dicapai :
Kualifikasi Skor
Sangat Baik 90 -100
Baik 80 – 89
Cukup 70 – 79
Kurang 60 – 69
Sangat Kurang < 60
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 4 Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia 4 - 30
Daftar Pustaka
Asmadi. 1985. Pelajar Pejuang. Jakarta: Upima Utama.
Hayati, Chusnul. Dkk. 1985. Sejarah Indonesia. Jakarta: Karunika.
Kamsori, Eryk.M. 2004. Sejarah untuk SMP kelas VIII. Bogor: Regina.
Kartodirjo, Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Notosusanto, Nugroho dan Yusmar Basri. 1976. Sejarah Nasional Indonesia
II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Onghokham. 1987. Jepang di Asia Timur. Jakarta: Gramedia.
Suyono, Capt. R.P. 2005.Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial.
Jakarta:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar