Jumat, 18 Maret 2011

Ilmu Pengetahuan Sosial 2.3

Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 1
SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM
DI INDONESIA
Pendahuluan
Pembahasan pada paket 3, sejarah perkembangan Islam di Indonesia, secara
tidak langsung merupakan kelanjutan dari paket 2. Pada paket ini materi yang
dibahas meliputi sejarah masuknya Islam di Indonesia yang berisi tentang
berbagai perspektif teori tentang awal mula penyebaran Islam di Indonesia dan
berbagai saluran atau caranya. Pada paket ini juga dibahas tentang kerajaankerajaan
Islam yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai penutup
pembahasan, akan diuraikan materi tentang pengaruh warisan kebudayaan
Islam terhadap masyarakat.
Supaya perkuliahan berjalan dengan efektif, pada langkah awal mahasiswa -
mahasiswi akan diputarkan film tentang sejarah perkembangan Islam.
Kemudian mahasiswa dibagi menjadi 3 kelompok untuk mendiskusikan materi
tentang sejarah agama Islam di Indonesia, yang dipandu dengan LK 3.1. A.;
kerajaan-kerajaan, yang dipandu dengan LK 3.1. B.; dan pengaruh
kebudayaan Islam di Indonesia, yang dipandu dengan Lk 3.1.C. Sebagai bahan
evaluasi, masing- masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka,
yang diwakili oleh beberapa orang yang ditunjuk. Pada akhir diskusi
mahasiswa membuat refleksi dari pembahasan yang telah didiskusikan.
Sebagai bahan penilaian, mahasiswa diberi soal tes untuk dijawab.
Karena dalam perkuliahan ini diputarkan film (bahan ada di CD), maka
sebaiknya dosen mempersiapkan laptop dan LCD sebagai kelengkapan
sarana perkuliahan.
Paket 3
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 2
Rencana Pelaksanaan Perkuliahan
Kompetensi Dasar
Mahasiswa-mahasiswi mampu menganalisis pertumbuhan dan
perkembangan agama dan kebudayaan Islam dan pengaruhnya terhadap
masyarakat di Indonesia.
Indikator
Pada akhir perkuliahan diharapkan mahasiswa-mahasiswi dapat:
1. memahami sejarah masuknya Islam di Indonesia
2. mendeskripsikan berbagai perspektif teori tentang masuknya agama Islam
di Indonesia.
3. menganalisis berbagai cara atau saluran masuknya Islam di Indonesia
4. mendeskripsikan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, dan
5. mendiskripsikan berbagai bentuk dan perilaku yang merupakan hasil
pengaruh agama dan kebudayaan Indonesia
Waktu
3x50
Materi Pokok
1. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
2. Berbagai Teori dan Perspektif tentang Masuknya Islam di Indonesia
3. Berbagai Saluran Masuknya Islam di Indonesia
4. Kerajaan-Kerajaan Islam yang Berkembang di Indonesia
5. Bentuk-bentuk Pengaruh Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Kelengkapan Bahan Perkuliahan
1. Lembar Kegiatan LK 3.1.A, 3.1.B, 3.1.C.
2. Lembar Uraian Materi 3.2
3. Lembar Powerpoint 3.3
4. Lembar Penilaian 3.4
5. Film dokumenter tentang perkembangan Islam
6. Laptop dan LCD disiapkan oleh Dosen sendiri
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 3
Langkah-langkah Perkuliahan
Kegiatan Inti
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 4
5.
6.
7.
8.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 5
9.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 6
Lembar Kegiatan 3.1.A
SEJARAH MASUKNYA ISLAM
DI INDONESIA
Pengantar
Di Indonesia, agama Islam merupakan agama yang paling banyak memiliki
pemeluk. Sebagaimana masuknya agama Hindu-Buddha, para ahli memiliki
teori yang berbeda tentang penyebaran Islam di Indonesia. Pada lembar
kegiatan ini, mahasiswa-mahasiswi akan mendiskusikan sejarah masuknya
Islam di Indonesia berdasarkan pendapat dari para ahli sejarah.
Tujuan
Mahasiswa-mahasiswi mampu mendeskripsikan berbagai teori tentang
masuknya agama Islam di Indonesia.
Alat dan Bahan
1. Lembar Uraian Materi 3.2
2. Lembar powerpoint 3.3
Langkah Kegiatan
1. Diskusikan selama 20 menit sejarah masuknya agama Islam di Nusantara
berdasarkan uraian materi 3.2. yang telah Anda baca!
2. Berikan penjelasan, teori mana yang paling sesuai menurut kelompok
Anda!
3. Berikan penjelasan pula, mengapa teori yang lain dianggap kurang sesuai!
4. Siapkan 2 orang untuk mempresentasikan hasil diskusi pada kelompok 2
dan siapkan 2 orang lagi untuk mempresentasikannya pada kelompok 3!
5. Masing-masing anggota kelompok membuat poin-poin simpulan.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 7
Lembar Kegiatan 3.1.B
PERKEMBANGAN ISLAM DAN KERAJAANKERAJAAN
ISLAM DI INDONESIA
Pengantar
Dalam perkembangannya, Islam memiliki kerajaan-kerajaan yang cukup
banyak dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Ketika masa penjajahan,
kerajaan-kerajaan tersebut terlibat aktif dalam perjuangan menentang penjajah.
Pada lembar kegiatan ini, mahasiswa-mahasiswi akan mendiskusikan
perkembangan Islam dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
Tujuan
1. Mahasiswa-mahasiswi mengetahui berbagai cara atau saluran masuknya
Islam di Indonesia.
2. Mahasiswa-mahasiswi mampu menjelaskan kerajaan-kerajaan Islam di
Nusantara.
Alat dan Bahan
Lembar Uraian Materi 3.2
Lembar Powerpoint 3.3
Langkah Kegiatan
1. Diskusikan selama 20 menit tema berbagai cara masuknya Islam di Indonesia
dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia!
2. Identifikasikan dan beri penjelasan cara masuknya Islam di Indonesia!
3. Beri penjelasan tentang perkembangan masing-masing kerajaan, terutama
menyangkut kehidupan sosial dan ekonominya!
4. Siapkan 2 orang untuk mempresentasikan hasil diskusi pada kelompok 1
dan siapkan 2 orang lagi untuk mempresentasikannya pada kelompok 3!
5. Masing-masing anggota kelompok membuat poin-poin kesimpulan.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 8
Lembar Kegiatan 3.1.C
PENGARUH AGAMA DAN KEBUDAYAAN
ISLAM TERHADAP MASYARAKAT
DI INDONESIA
Pengantar
Kerajaan-kerajaan Islam memiliki peninggalan sejarah di Indonesia. Di
samping itu warisan budaya Agama Islam sangat mempengaruhi kehidupan
sosial masyarakat di Indonesia. Pada lembar kegiatan ini, mahasiswa -
mahasiswi mendiskusikan pengaruh agama dan kebudayaan Islam di
Indonesia.
Tujuan
Mahasiswa-mahasiswi mampu mendiskripsikan berbagai bentuk dan perilaku
yang merupakan hasil pengaruh agama dan kebudayaan Indonesia.
Alat dan Bahan
Lembar Uraian Materi 3.2
Lembar powerpoint 3.3
Langkah Kegiatan
1. Diskusikan selama 20 menit tema pengaruh agama dan kebudayaan Islam
di Indonesia!
2. Identifikasikan bentuk-bentuk warisan kebudayaan Islam!
3. Beri penjelasan tentang pengaruh kebudayaan Islam terhadap masyarakat
saat ini!
4. Siapkan 2 orang untuk mempresentasikan hasil diskusi pada kelompok 1
dan siapkan 2 orang lagi untuk mempresentasikannya pada kelompok 2!
5. Masing-masing anggota kelompok membuat poin-poin kesimpulan.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 9
Uraian Materi 3.2
SEJARAH PERKEMBANGAN
ISLAM DI INDONESIA
A. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Di lihat dari proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia, ada
tiga teori yang berkembang. Teori Gujarat, teori Makkah, dan teori Persia
(Ahmad Mansur, 1996). Ketiga teori tersebut, saling mengemukakan
perspektif kapan masuknya Islam, asal negara, penyebar atau pembawa Islam
ke Nusantara.
Teori Gujarat
Teori gujarat dikenal juga dengan teori India. Teori ini berpendapat bahwa
agama Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat (Cambay) pada abad 13 M.
Teori ini berdasar pada:
minimnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam
penyebaran Islam di Indonesia,
adanya hubungan dagang antara saudagar di nusantara dengan pedagang
dari India, dan
adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297
yang bercorak khas Gujarat.
Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada
saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang
pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di
Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang
Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam. Pendukung teori Gujarat
adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke.
Teori Makkah
Teori ini juga dikenal dengan teori Arab dan merupakan teori baru tentang
masuknya Islam di Indonesia yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori
lama yaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Adapun
fakta pendukung teori ini adalah:
sesuai dengan warta dari Cina bahwa para pedagang Arab sudah sejak
abad ke-4 mendirikan perkampungan di Kanton. Pada abad ke 7 tepatnya
674, di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab),
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 10
Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, yaitu madzhab
yang juga banyak berpengaruh di Mesir dan Mekkah saat itu. sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi,
Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut
berasal dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para
ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri
kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya
yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya
adalah bangsa Arab sendiri.
Teori Persia
Sama seperti teori Gujarat, teori Persia berpendapat bahwa Islam masuk ke
Indonesia abad 13, dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Teori ini
berdasarkan adanya kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat
Islam seperti:
adanya peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan
dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang
Syiah/Islam Iran. Kegiatan tersebut diperingati di berbagai tempat di
Indonesia, di Sumatra Barat peringatan Asyura disebut dengan upacara
Tabuik/Tabut dan sedangkan di pulau Jawa biasanya ditandai dengan
pembuatan bubur Syuro,
adanya kesamaan ajaran sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi
Persia, yaitu Al – Hallaj,
penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk
tanda-tanda bunyi harakat, dan
ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.
Teori Persia didukung oleh Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat
Refleksi Sejarah
Relasi kerajaan di Nusantara, khususnya kerajaan Sriwijaya, dengan para
pedagang dari Asia Timur sudah dilakukan pada abad 7 M. Mereka menjalin
hubungan dagang melalui laut. Selat malaka menjadi kawasan perairan yang
sering disinggahi para pedagang dari Asia Timur dan Asia Tenggara lainnya.
Hubungan perdagagan terus berlanjut hingga abad-abad berikutnya. Pada
abad ke 9 M kapal-kapal dari Cina mulai memasuki perairan ini. Para
pedagang dari negeri India pun sering kali melewati perairan malaka untuk
menuju Cina. Para pedagang Nusantara pada zaman kerajaan Sriwijaya
disamping menjalin hubungan dengan Cina dan India, juga telah berlayar
hingga pantai timur Afrika. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa
hubungan perdagangan yang dilakukan oleh pedagang di Nusantara sudah
sejak lama ada.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 11
Berdasarkan cerita perjalanan, menurut J.C. Van Leur (dalam Yatim,
2000:192), diperkirakan bahwa sejak tahun 674 M pedagang Arab sudah
memasuki daerah Sumatera, yaitu di Barus, untuk mendapatkan bahan
pengharum, karena daerah ini terkenal dengan bahan kapur barus. Sementara
itu, cerita dari Cina menyebutkan bahwa di masa dinasti Tang (abad 9-10)
orang-orang Ta-Shih (sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia) sudah ada
di Kanton (Kan-fu) dan Sumatera. Akan tetapi belum ada bukti bahwa
nusantara telah disinggahi oleh pedagang muslim. Hingga saat itu yang ada
adalah para pedagang arab yang menunggu musim yang baik bagi pelayaran.
Baru pada abad berikutnya, penduduk di kawasan Nusantara mulai memeluk
agama Islam. Mereka menganut ajaran Islam dari hasil hubungan
perdagangan antara saudagar di Nusantara dengan pedagang Muslim yang
berasal dari Arab dan India yang telah menganut agama Islam terlebih dahulu.
Hubungan perdagangan itu tidak terbatas di pulau Sumatera saja, melainkan
ke wilayah lain seperti Jawa. Pada tahun 1082 M (475 H), ditemukan makam
Fatimah binti Maimun di Leran Gresik. Demikian pula dengan makam-makam
Islam lain di Tralaya yang ditemukan sekitar abad 13 M merupakan bukti
berkembangnya komunitas Islam pada saat itu.
Namun demikian, menurut Taufik Abdullah (1991:38), sumber sejarah yang
sahih dan dapat dipertanggungjawabkan yang memberikan kesaksian sejarah
tentang berkembangnya masyarakat Islam di Indonesia, baik berupa prasasti
dan historiografi tradisional, adalah ketika komunitas Islam berubah menjadi
pusat kekuasaan. Di kawasan Nusantara, menjelang abad ke-13 M kerajaan
Islam, Samudera Pasai, sudah berdiri di Sematera. Oleh karenanya,
masyarakat Islam ada dan tumbuh di Indonesia adalah pada saat itu yang
terus berkembang hingga saat ini.
Abdullah (1991:38) menyimpulkan, sampai berdirinya kerajaan Islam tersebut,
perkembangan agama Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase:
singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara,
sumbernya adalah berita luar negeri terutama Cina,
adanya komunitas-komunitas Islam di beberapa daerah kepulauan
Indonesia, sumbernya di samping berita-berita asing, juga dapat diketahui
dari makam-makam Islam, dan
berdirinya kerajaan Islam.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 12
B. Perkembangan Islam di Indonesia
Meskipun Islam baru bisa dikatakan berkembang setelah berdirinya kerajaan
Islam, atau setidaknya ketika ada jalinan hubungan dagang antara saudagar
muslim dengan pribumi, namun cara kedatangan Islam dan penyebarannya
di Indonesia tidak dilakukan dari saluran politik atau perdagangan semata.
Setidaknya ada enam saluran berkembangnya Islam di Indonesia
(Yatim:201-203). Saluran perkembangan tersebut meliputi saluran
perdagangan, saluran politik, saluran perkawinan, saluran pendidikan,
saluran kesenian dan saluran tasawuf.
Pendekatan Perdagangan
Proses islamisasi lebih sering dikatakan diawali dari hubungan perdagangan
antar saudagar. Lalu lintas perairan di selat Malaka padat sejak abad ke-7 M
merupakan cikal bakal masuknya islam melalui saluran ini. Hubungan dagang
antara saudagar Nusantara dengan para pedangang dari Arab, Persia dan
India sejak abad itu memungkinkan untuk terjadinya pertukaran tidak hanya
urusan bisnis tetapi juga adanya perasaan saling memahami antara
kepercayaan satu dengan yang lain.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa pedagang dari kawasan Arab,
Persia dan India menjadikan wilayah kepulauan Sumatera sebagai jalur sutera
menuju perairan Cina. Mereka tentu saja tidak sekedar singgah untuk menanti
saat yang tepat untuk kembali berlayar, namun dalam persinggahan itu telah
terjalin hubungan dengan masyarakat yang mereka singgahi, bahkan
kemudian terlibat urusan bisnis pula, seperti kedatangan para pedagang di
daerah Barus, Sumatera.
Apalagi ketika jalur pelayaran sampai ke tanah Jawa, yang menjadikan proses
masuknya Islam semakin merambah luas. Para pedagang banyak bermukim
di pesisir pantai, bahkan mereka ada yang mendirikan masjid, sehingga
penduduk Jawa yang saat itu masih belum memeluk Islam mulai tertarik untuk
menganut ajaran agama ini.
Pendekatan Politik
Masuknya Islam melalui saluran ini dapat terlihat ketika Samudera Pasai
menjadi kerajaan, banyak sekali penduduk yang memeluk agama Islam.
Proses seperti ini terjadi pula di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan
rakyat masuk Islam setelah raja mereka memeluk Islam terlebih dahulu.
Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Dari sini
dapat dikatakan pula bahwa kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak
menarik penduduk kerajaan yang bukan muslim untuk memeluk agama Islam.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 13
Pendekatan Perkawinan
Tak dapat dipungkiri, dari sisi ekonomi, para pedagang muslim memiliki status
sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk
pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri para
pedagang itu. Sebelum prosesi pernikahan, mereka telah diIslamkan terlebih
dahulu, dan setelah mereka memiliki keturunan, lingkungan kaum muslim
semakin luas.
Oleh karenanya tidak heran banyak sekali bermunculan kampung-kampung
muslim. Awalnya kampung ini berkembang di pesisir pantai, biasanya mereka
disebut dengan kampung arab —dan masih terkenal hingga saat ini. Dalam
perkembangan berikutnya, karena ada wanita yang keturunan bangsawan
yang dinikahi oleh pedagang itu, tentu saja kemudian dapat mempercepat
proses islamisasi.
Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel dengan
Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten, Brawijaya
dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah, raja pertama kerajaan
Demak, dan lain-lain.
Pendekatan Pendidikan
Pada proses ini, biasanya dilakukan melalui pendidikan-pendidikan yang
dilakukan oleh para wali, ulama, kiai, atau guru agama yang mendidik muridmurid
mereka. Tempat yang paling pesat untuk mengembangkan ajaran Islam
adalah di pondok pesantren. Di tempat itu para santri dididik dan diajarkan
pendidikan agama Islam secara mendalam, sehingga mereka betul-betul
menguasai ilmu agama. Setelah lulus dari pesantren, para santri kembali ke
daerah asal untuk kemudian menyebarkan kepada masyarakat umum pelajaran
yang telah mereka peroleh di pesantren.
Pendekatan Kesenian
Kesenian merupakan wahana untuk berdakwah bagi para pemuka agama di
Indonesia. Pada proses ini yang paling terkenal menggunakannya adalah para
wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Salah satu media pertunjukan
yang paling terkenal melalui pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga, penyebar
Islam di daerah Jawa Tengah adalah sosok yang sangat mahir dalam
memainkan wayang.
Cerita wayang yang dimainkan berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata
yang memang sudah sangat terkenal dan digemari oleh masyarakat. Dalam
memainkan wayang, selalu disisipkan ajaran-ajaran Islam sehingga penduduk
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 14
pribumi mulai akrab dengan ajaran Islam melalui media ini. Yang paling
manarik dalam pertunjukan ini adalah para penduduk tidak dipungut biaya
ketika mereka menyaksikan pertunjukan wayang, mereka hanya diminta untuk
melantunkan kalimat syahadat, sehingga mereka akhirnya masuk Islam dan
ikut mendalami ajarannya
Pendekatan Tasawuf
Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam. Para tokoh tasawuf ini
biasanya memiliki keahlian khusus sehingga dapat menarik penduduk untuk
memeluk ajaran Islam. Keahlian tersebut biasanya termanifestasi dalam
bentuk penyembuhan bagi orang-orang yang terkena penyakit, lalu
disembuhkan. Ada juga yang termanifestasi sebagai kekuatan-kekuatan magic
yang memang sudah sangat akrab dengan penduduk pribumi saat itu.
C. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia
Dari berbagai proses tersebut, Indonesia kemudian menjadi negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada perkembangannya ajaran
Islam disalurkan melalui berbagai kerajaan yang berkembang di Indonesia.
Kerajaan Islam yang pertama ada dan berkembang adalah kerajaan
Samudera Pasai, dengan raja pertamanya yang bernama Sultan Malik al-
Saleh (1297 M/696 H). Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Selain
Samudera Pasai, di Aceh juga ada kerajaan Aceh Darussalam, yang berdiri
di atas kerajaan Lamuri.
Di Jawa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan Demak, yang dipimpin oleh
raja pertamanya, Raden Patah. Kemudian ada pula kerajaan Pajang yang dipimpin
oleh Jaka Tingkir. Kerajaan ini berdiri setelah meninggalnya sultan Demak tahun
1546 M. Ada pula kerajaan Mataram yang dipimpin pertamakali oleh Senopati.
Kemudian kerajaan Cirebon yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati.
Selain di Sumatera dan Jawa, kerajaan Islam juga tumbuh di tempat lain di
nusantara, seperti Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Di Kalimantan ada
kerajaan Banjar (Kalimantan Selatan), Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur). Di
Sulawesi ada kerajaan Gowa-Tallo, dengan sultan Alauddin (1591-1636)
sebagai raja Islam yang pertama. Selain Gowa-Tallo, di Sulawesi ada kerajaan
Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu). Mereka juga menerima Islam pada awal abad
17 M. Sementara itu di Maluku ada kerajaan Ternate yang memeluk Islam
sekitar tahun 1460 dengan pimpinan seorang raja yang bernama Vongi Tidore.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 15
Dari asal-usul banyaknya kerajaan Islam yang tumbuh itulah Indonesia saat ini
mampu berkembang menjadi negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.
Berikut ini dijelaskan beberapa kerajaan Islam yang terkenal.
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang pertama kali
tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara. Secara pasti, mengenai awal
dan tahun berdirinya kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi
menurut pendapat Hasyimi, berdasarkan naskah tua yang berjudul Izhharul
Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai
berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada
pertengahan abad ke-9.
Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya
tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat
lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami kemunduran.
Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa lokal yang
bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah
Samudra dan Pasai. Dan kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan
dengan nama Samudra Pasai.
Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara,
yang berbatasan dengan Selat Malaka.
Kehidupan Politik
Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik
al-Saleh, sebagai raja pertama yang memerintah tahun 1285 – 1297. Pada
masa pemerintahannya, datang seorang musafir dari Venesia (Italia) tahun
1292 yang bernama Marcopolo, melalui catatan perjalanan Marcopololah
maka dapat diketahui bahwa raja Samudra Pasai bergelar Sultan.
Setelah Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh
keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I
(1297 – 1326). Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang
Gambar 3.1: Peta Kerajaan Islam di Indonesia
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 16
juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II (1326 – 1348). Pada masa ini
pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus menjalin
hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Bahkan
melalui catatan kunjungan Ibnu Batulah seorang utusan dari Sultan Delhi tahun
1345 dapat diketahui Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan
istananya disusun dan diatur secara India dan patihnya bergelar Amir.
Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudra Pasai tidak banyak diketahui
karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik
al-Tahir III kurang begitu jelas. Menurut sejarah Melayu, kerajaan Samudra
Pasai diserang oleh kerajaan Siam. Dengan demikian karena tidak adanya
data sejarah yang lengkap, maka peristiwa itu dianggap sebagai runtuhnya
Samudra Pasai
Kehidupan Ekonomi
Dengan letaknya yang strategis, maka Samudra Pasai berkembang sebagai
kerajaan Maritim, dan bandar transit. Dengan demikian Samudra Pasai
menggantikan peranan Sriwijaya di Selat Malaka.
Kerajaan Samudra Pasai memiliki hegemoni (pengaruh) atas pelabuhanpelabuhan
penting di Pidie, Perlak, dan lain-lain. Samudra Pasai berkembang
pesat pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Tahir II. Hal ini juga sesuai
dengan keterangan Ibnu Batulah.
Menurut cerita Ibnu Batulah, perdagangan di Samudra Pasai semakin ramai
dan bertambah maju karena didukung oleh armada laut yang kuat, sehingga
para pedagang merasa aman dan nyaman berdagang di Samudra Pasai.
Komoditi perdagangan dari Samudra yang penting adalah lada, kapurbarus
dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan
sudah dikenal uang sebagai alat tukar yaitu
uang emas yang dinamakan Deureuham
(dirham).
Kehidupan Sosial Budaya
Kemajuan dalam bidang ekonomi membawa
dampak pada kehidupan sosial, masyarakat
Samudra Pasai menjadi makmur. Dan di
samping itu juga kehidupan masyarakatnya
diwarnai dengan semangat kebersamaan dan
hidup saling menghormati sesuai dengan
syariat Islam. Gambar 3.2
Nisan Makam
Sultan Malik al-Saleh
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 17
Dari gambar tersebut, yang perlu Anda ketahui bahwa batu nisan tersebut
berasal dari Gujarat (India). Hal ini berarti kerajaan Samudra Pasai bersifat
terbuka dalam menerima budaya lain yaitu dengan memadukan budaya Islam
dengan budaya India.
Kerajaan Demak
Sebelum dikenal dengan nama Demak, daerah tersebut dikenal dengan nama
Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah
kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah
salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja
Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat
berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.
Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan
melakukan penyerangan terhadap Majapahit.
Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam
pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak
secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di
daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang
luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran
rendah yang dialiri sungai Lusi).
Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di
mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya
kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya
berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.
Kehidupan Politik
Lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena
menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia
bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak
berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama
yaitu Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500 - 1518).
Pada masa pemerintahannya Demak memiliki peranan yang penting
dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena
Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke
tangan Portugis 1511. Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman
bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada
tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka,
yang dipimpin oleh Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran
Sabrang Lor.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 18
Serangan Demak terhadap Portugis walaupun mengalami kegagalan namun
Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa.
Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518 - 1521), Demak melakukan
blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.
Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono
(1521 - 1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah
kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Kekuasaan Sultan
Trenggono berhasil dikembangkan antara lain karena Sultan Trenggono
melakukan penyerangan terhadap daerah-daerah kerajaan-kerajaan Hindu
yang mengadakan hubungan dengan Portugis seperti Sunda Kelapa
(Pajajaran) dan Blambangan.
Penyerangan terhadap Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Pajajaran disebabkan
karena adanya perjanjian antara raja Pakuan penguasa Pajajaran dengan
Portugis yang diperkuat dengan pembuatan tugu peringatan yang disebut
Padrao. Isi dari Padrao tersebut adalah Portugis diperbolehkan mendirikan
Benteng di Sunda Kelapa dan Portugis juga akan mendapatkan rempahrempah
dari Pajajaran.
Sebelum Benteng tersebut dibangun oleh Portugis, tahun 1526 Demak
mengirimkan pasukannya menyerang Sunda Kelapa, di bawah pimpinan
Fatahillah. Dengan penyerangan tersebut maka tentara Portugis dapat dipukul
mundur di Teluk Jakarta. Kemenangan Fatahillah merebut Sunda Kelapa tepat
tanggal 22 Juni 1527 diperingati dengan pergantian nama menjadi Jayakarta
yang berarti Kemenangan Abadi.
Sedangkan penyerangan terhadap Blambangan dilakukan pada tahun 1546, di
mana pasukan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono yang dibantu oleh
Fatahillah, tetapi sebelum Blambangan berhasil direbut Sultan Trenggono
meninggal di Pasuruan.
Dengan meninggalnya Sultan Trenggono, maka terjadilah perebutan
kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen (saudara Trenggono)
dengan Sunan Prawoto (putra Trenggono) dan Arya Penangsang (putra
Sekar Sedolepen). Perang saudara tersebut diakhiri oleh Pangeran Hadiwijaya
(Jaka Tingkir) yang dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan, sehingga pada
tahun 1568 Pangeran Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan Demak
ke Pajang. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Demak dan hal ini juga
berarti bergesernya pusat pemerintahan dari pesisir ke pedalaman.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 19
Kehidupan Ekonomi
Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi sebelumnya, bahwa letak
Demak sangat strategis di jalur perdagangan nasional sehingga
memungkinkan Demak berkembang sebagai kerajaan maritim. Dalam
kegiatan perdagangan, Demak berperan sebagai penghubung antara daerah
penghasil rempah di Indonesia bagian Timur dan penghasil rempah-rempah
Indonesia bagian barat. Dengan demikian perdagangan Demak semakin
berkembang. Hal ini juga didukung oleh penguasaan Demak terhadap
pelabuhan-pelabuhan di daerah pesisir pantai pulau Jawa.
Sebagai kerajaan Islam yang memiliki wilayah di pedalaman, maka
Demak juga memperhatikan masalah pertanian, sehingga beras merupakan
salah satu hasil pertanian yang menjadi komoditi dagang. Dengan demikian
kegiatan perdagangannya ditunjang oleh hasil pertanian, mengakibatkan
Demak memperoleh keuntungan di bidang ekonomi.
Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Demak lebih berdasarkan pada
agama dan budaya Islam karena pada dasarnya Demak adalah pusat
penyebaran Islam. Sebagai pusat penyebaran Islam Demak menjadi tempat
berkumpulnya para wali seperti Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus
dan Sunan Bonang.
Para wali tersebut memiliki peranan yang penting pada masa perkembangan
kerajaan Demak bahkan para wali tersebut menjadi penasehat bagi raja
Demak. Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara raja/bangsawan
- para wali/ulama dengan rakyat.
Hubungan yang erat tersebut, tercipta melalui pembinaan masyarakat baik
pembinaan agama maupun pembinaan sosial yang diselenggarakan di
Masjid maupun Pondok Pesantren. Sehingga tercipta kebersamaan atau
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di antara orang-orang Islam).
Demikian pula dalam bidang budaya banyak hal yang menarik yang
merupakan peninggalan dari kerajaan Demak. Salah satunya adalah Masjid
Demak, di mana salah satu tiang utamanya terbuat dari pecahan-pecahan
kayu yang disebut Soko Tatal. Masjid Demak dibangun atas pimpinan
Sunan Kalijaga. Di serambi depan Masjid (pendopo) itulah Sunan Kalijaga
menciptakan dasar-dasar perayaan Sekaten (Maulud Nabi Muhammad saw)
yang sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta dan Cirebon.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 20
Lihat gambar berikut
Gambar 3.3: Masjid Agung Demak
Dilihat dari arsitekturnya, Masjid Agung Demak seperti yang tampak pada
gambar tersebut memperlihatkan adanya wujud akulturasi kebudayaan
Indonesia Hindu dengan kebudayaan Islam.
Kerajaan Banten
Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi tentang kerajaan Demak,
bahwa daerah ujung barat pulau Jawa yaitu Banten dan Sunda Kelapa dapat
direbut oleh Demak, di bawah pimpinan Fatahillah. Untuk itu daerah tersebut
berada di bawah kekuasaan Demak.
Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka daerah Banten diserahkan
kepada putranya yang bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri
menetap di Cirebon, dan lebih menekuni hal keagamaan. Dengan diberikannya
Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan dasardasar
pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama,
memerintah tahun 1552 – 1570.
Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten sekarang, yaitu di tepi Timur
Selat Sunda sehingga daerahnya strategis dan sangat ramai untuk
perdagangan nasional. Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat
melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga Banten dapat berkembang
cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.
Kehidupan Politik
Berkembangnya kerajaan Banten tidak terlepas dari peranan raja-raja yang
memerintah di kerajaan tersebut. Berikut ini adalah raja-raja yang memerintah
di Banten.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 21
1. Sultan Hasannudin (1552 – 1570)
2. Panembahan Yusuf (1570 – 1580)
3. Maulana Muhammad (1580 – 1596)
4. Abulmufakir (1596 – 1640)
5. Abumaali Achmad (1640 – 1651)
6. Sultan Abdul Fatah/Sultan Ageng Tirtayasa (1651 – 1682)
7. Abdulnasar Abdulkahar/Sultan Haji (1682 – 1687)
Dalam perkembangan politiknya, selain Banten berusaha melepaskan diri dari
kekuasaan Demak, Banten juga berusaha memperluas daerah kekuasaannya
di Jawa Barat yaitu dengan menduduki Pajajaran tahun 1519. Dengan dikuasainya
Pajajaran, maka seluruh daerah Jawa Barat berada di bawah kekuasaan Banten.
Hal ini terjadi pada masa pemerintahan raja Panembahan Yusuf.
Pada masa pemerintahan Maulana Muhammad, perluasan wilayah Banten
diteruskanke Sumatera yaitu berusaha menguasai daerah-daerah yang banyak
menghasilkan lada seperti Lampung, Bengkulu dan Palembang. Lampung dan
Bengkulu dapat dikuasai Banten tetapi Palembang mengalami kegagalan,
bahkan Maulana Muhammad meninggal ketika melakukan serangan ke
Palembang.
Dengan dikuasainya pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat dan beberapa
daerah di Sumatera, maka kerajaan Banten semakin ramai untuk
perdagangan, bahkan berkembang sebagai kerajaan maritim. Hal ini terjadi
pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
Pemerintahan Sultan Ageng, Banten mencapai puncak keemasannya karena
sebagai kerajaan maritim, Banten menjadi pusat perdagangan yang didatangi
oleh berbagai bangsa seperti Arab, Cina, India, Portugis dan bahkan Belanda.
Belanda pada awalnya datang ke Indonesia, mendarat di Banten tahun 1596
tetapi karena kesombongannya, maka para pedagang-pedagang Belanda
tersebut dapat diusir dari Banten dan menetap di Jayakarta. Di Jayakarta,
Belanda mendirikan kongsi dagang tahun 1602.
Selain mendirikan benteng di Jayakarta VOC akhirnya menetap dan mengubah
nama Jayakarta menjadi Batavia tahun 1619, sehingga kedudukan VOC di
Batavia semakin kuat. Adanya kekuasaan Belanda di Batavia, menjadi saingan
bagi Banten dalam perdagangan. Persaingan tersebut kemudian berubah
menjadi pertentangan politik, sehingga Sultan Ageng Tirtayasa sangat anti
kepada VOC.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 22
Dalam rangka menghadapi Belanda/VOC, Sultan Ageng Tirtayasa
memerintahkan melakukan perang gerilya dan perampokan terhadap Belanda
di Batavia. Akibat tindakan tersebut, maka Belanda menjadi kewalahan
menghadapi Banten. Untuk menghadapi tindakan Sultan Ageng Tirtayasa
tersebut, maka Belanda melakukan politik adu-domba (Devide et Impera)
antara Sultan Ageng dengan putranya yaitu Sultan Haji.
Akibat dari politik adu-domba tersebut, maka terjadi perang saudara di Banten,
sehingga Belanda dapat ikut campur dalam perang saudara tersebut. Belanda
memihak Sultan Haji, yang akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan
oleh Sultan Haji. Dengan kemenangan Sultan Haji, maka Sultan Ageng
Tirtayasa ditawan dan dipenjarakan di Batavia sampai meninggalnya tahun
1692. Dampak dari bantuan VOC terhadap Sultan Haji maka Banten harus
membayar mahal, di mana Sultan Haji harus menandatangani perjanjian
dengan VOC tahun 1684.
Perjanjian tersebut sangat memberatkan dan merugikan kerajaan Banten,
sehingga Banten kehilangan atas kendali perdagangan bebasnya, karena
Belanda sudah memonopoli perdagangan di Banten. Akibat terberatnya adalah
kehancuran dari kerajaan Banten itu sendiri karena VOC/Belanda mengatur
dan mengendalikan kekuasaan raja Banten. Raja-raja Banten sejak saat itu
berfungsi sebagai boneka.
Kehidupan Ekonomi
Kerajaan Banten yang letaknya di ujung barat Pulau Jawa dan di tepi Selat
Sunda merupakan daerah yang strategis karena merupakan jalur lalu-lintas
pelayaran dan perdagangan khususnya setelah Malaka jatuh tahun 1511,
menjadikan Banten sebagai pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para
pedagang dari berbagai bangsa.
Pelabuhan Banten juga cukup aman, sebab terletak di sebuah teluk yang
terlindungi oleh Pulau Panjang, dan di samping itu Banten juga merupakan
daerah penghasil bahan ekspor seperti lada. Selain perdagangan kerajaan
Banten juga meningkatkan kegiatan pertanian, dengan memperluas areal
sawah dan ladang serta membangun bendungan dan irigasi. Kemudian
membangun terusan untuk memperlancar arus pengiriman barang dari
pedalaman ke pelabuhan. Dengan demikian kehidupan ekonomi kerajaan
Banten terus berkembang baik yang berada di pesisir maupun di pedalaman.
Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan masyarakat Banten yang berkecimpung dalam dunia pelayaran,
perdagangan dan pertanian mengakibatkan masyarakat Banten berjiwa bebas,
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 23
bersifat terbuka karena bergaul dengan pedagang-pedagang lain dari berbagai
bangsa. Para pedagang lain tersebut banyak yang menetap dan mendirikan
perkampungan di Banten, seperti perkampungan Keling, perkampungan
Pekoyan (Arab), perkampungan Pecinan (Cina) dan sebagainya.
Di samping perkampungan seperti tersebut di atas, ada perkampungan yang
dibentuk berdasarkan pekerjaan seperti Kampung Pande (para pandai besi),
Kampung Panjunan (pembuat pecah belah) dan kampung Kauman (para
ulama). Dengan adanya perkampungan tersebut, membuktikan bahwa
kehidupan masyarakatnya teratur, dan berlangsung dengan baik bahkan
kehidupan masyarakat Banten dipengaruhi oleh ajaran Islam.
Dalam bidang kebudayaan yang merupakan peninggalan kerajaan Banten
salah satunya adalah seni bangunan. Dalam seni bangunan memperlihatkan
adanya akulturasi dari berbagai kehidupan yang ada. Salah satu contoh dari
wujud akulturasi tersebut adalah tampak pada bangunan Masjid Agung
Banten, yang memperlihatkan wujud akulturasi antara kebudayaan Indonesia,
Hindu, Islam dan Eropa. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat gambar berikut
Arsitek Masjid Agung Banten tersebut adalah Jan
Lucas Cardeel, seorang pelarian Belanda yang
beragama Islam. Kepandaiannya dalam bidang
bangunan dimanfaatkan oleh Sultan Ageng Tirtayasa
untuk mendirikan bangunanbangunan gaya Belanda
(Eropa) seperti benteng kota Inten, pesanggrahan
Tirtayasa dan bangunan Madrasah.
Kerajaan Mataram
Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram
adalah daerah kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede
Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh
Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang
kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi
perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang.
Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi
kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede
Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai
adipati di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang
berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra
Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari
Raden Trenggono.
Gambar 3.4:
Masjid Agung Banten
(Sumber: Sejarah Nasional
Indonesia dan Umum I,
Nana Supratna, Grafindo).
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 24
Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai
Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran
Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya
tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya
maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada
Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai
kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram
tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu
di sekitar kota Yogyakarta sekarang.
Kehidupan Politik
Pendiri kerajaan Mataram adalah Sutawijaya. Ia bergelar Panembahan
Senopati, memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia
berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan,
dan Cirebon serta Galuh.
Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram,
Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan
Anyakrawati tahun 1601 – 1613. Sebagai raja Mataram ia juga berusaha
meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk
memperoleh kekuasaan Mataram dengan menundukkan daerah-daerah
yang melepaskan diri dari Mataram. Akan tetapi sebelum usahanya selesai,
Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal dengan sebutan
Panembahan Sedo Krapyak.
Untuk selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas Rangsang yang
bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman, yang memerintah
tahun 1613 – 1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar. Pada masa
pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena ia seorang raja yang
gagah berani, cakap dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya, kota
kerajaan Mataram mula-mula di Kerta, kemudian dipindahkan ke Plered.
Sebagai raja Mataram ia bercita-cita mempersatukan seluruh pulau Jawa di
bawah kekuasaan Mataram.
Daerah-daerah yang dipersatukan oleh Mataram tersebut antara lain melalui
ikatan perkawinan antara adipati-adipati dengan putri-putri Mataram, bahkan
Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon sehingga daerah Cirebon
juga mengakui kekuasaan Mataram.
Di samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung
juga berusaha mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 25
melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629
akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan.
Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh
dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1
bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam
waktu singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung
pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC,
sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan.
Dampak pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang
menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna. Hal
inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu
juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram.
Walaupun penyerangan terhadap Batavia mengalami kegagalan, namun
Sultan Agung tetap berusaha memperkuat penjagaan terhadap daerah-daerah
yang berbatasan dengan Batavia, sehingga pada masa pemerintahannya VOC
sulit menembus masuk ke pusat pemerintahan Mataram.
Setelah wafatnya Sultan Agung tahun 1645, Mataram tidak memiliki raja-raja
yang cakap dan berani seperti Sultan Agung, bahkan putranya sendiri yaitu
Amangkurat I dan cucunya Amangkurat II merupakan raja-raja yang lemah.
Kelemahan raja-raja Mataram setelah Sultan Agung dimanfaatkan oleh
penguasa daerah untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram juga VOC.
Akhirnya VOC berhasil juga menembus ke ibukota dengan cara mengadudomba
sehingga kerajaan Mataram berhasil dikendalikan VOC.
Bukti berhasilnya VOC dengan politik devide et impera, kerajaan Mataram
terbelah dua melalui perjanjian Gianti tahun 1755. Sehingga Mataram yang luas
hampir meliputi seluruh pulau Jawa akhirnya terpecah belah menjadi 2 wilayah
kerajaan berikut.
1. Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar
Sultan Hamengkubuwono I.
2. Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III.
Belanda ternyata belum puas memecah belah kerajaan Mataram. Akhirnya
melalui politik adu-domba kembali tahun 1757 diadakan perjanjian Salatiga.
Mataram terbagi 4 wilayah yaitu sebagian Surakarta diberikan kepada
Mangkunegaran selaku Adipati tahun 1757, kemudian sebagian Yogyakarta
juga diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati tahun 1813.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 26
Kehidupan Ekonomi
Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai
kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian.
Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan
dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir yang
mata pencahariannya pelayaran dan perdagangan.
Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang
luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil
utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija.
Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama,
bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad 17 Mataram menjadi
pengekspor beras paling besar pada saat itu. Dengan demikian kehidupan
ekonomi Mataram berkembang pesat karena didukung oleh hasil bumi
Mataram yang besar.
Kehidupan Sosial Budaya
Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, maka masyarakat Mataram disusun
berdasarkan sistem feodalisme. Dengan sistem tersebut maka raja adalah
pemilik tanah kerajaan beserta isinya. Untuk melaksanakan pemerintahan,
raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang
mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah
lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya
atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar
pajak/sewa tanah.
Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan
tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya.
Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu
pengatur kehidupan keagamaan.
Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta
seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam
pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya
gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat
pada masa Sultan Agung.
Kerajaan Gowa - Tallo
Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya
Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan
tersebut membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 27
satunya adalah kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun
1528, sehingga melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan
kerajaan Makasar. Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan
Gowa dan sekarang masih digunakan sebagai nama ibukota propinsi
Sulawesi Selatan.
Secara geografis, daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat
strategis, karena berada di jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan
daerah Makasar menjadi pusat persinggahan para pedagang baik yang berasal
dari Indonesia Timur maupun yang berasal dari Indonesia Barat. Dengan posisi
strategis tersebut maka kerajaan Makasar berkembang menjadi kerajaan
besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.
Kehidupan Politik
Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Rebandang dari
Sumatera, sehingga pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di
Sulawesi Selatan, bahkan raja Makasar pun memeluk agama Islam. Raja
Makasar yang pertama memeluk agama Islam adalah Karaeng Matoaya (Raja
Gowa) yang bergelar Sultan Alaudin yang memerintah Makasar tahun 1593 –
1639 dan dibantu oleh Daeng Manrabia (Raja Tallo) sebagai Mangkubumi
bergelar Sultan Abdullah.
Sejak pemerintahan Sultan Alaudin kerajaan Makasar berkembang sebagai
kerajaan maritim dan berkembang pesat pada masa pemerintahan raja
Malekul Said (1639 –1653). Selanjutnya kerajaan Makasar mencapai puncak
kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669).
Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah
kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta
daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar.
Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat.
Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi
asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan
oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia
(pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya
kerajaan Makasar.
Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin
dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan
tersebut terjadi di daerah Maluku. Dalam peperangan melawan VOC, Sultan
Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 28
pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak.
Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan
julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur.
Upaya Belanda untuk mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan
melakukan politik adu-domba antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah
kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu Aru Palaka yang merasa dijajah oleh
Makasar meminta bantuan kepada VOC untuk melepaskan diri dari
kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka bersekutu dengan VOC
untuk menghancurkan Makasar.
Akibat persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota
kerajaan Makasar. Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui
kekalahannya dan menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya
tentu sangat merugikan kerajaan Makasar.
Isi dari perjanjian Bongaya adalah sebagai berikut.
1. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan di Makasar.
2. Belanda dapat mendirikan benteng di Makasar.
3. Makasar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya seperti Bone dan
pulau-pulau di luar Makasar.
4. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
Walaupun perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap
Belanda tetap berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu
Mapasomba (putra Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda.
Untuk menghadapi perlawanan rakyat Makasar, Belanda mengerahkan
pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya Belanda dapat menguasai
sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami kehancurannya.
Kehidupan Ekonomi
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, bahwa kerajaan Makasar
merupakan kerajaan Maritim dan berkembang sebagai pusat perdagangan di
Indonesia bagian Timur. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor seperti letak
yang strategis, memiliki pelabuhan yang baik serta didukung oleh jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagangpedagang
yang pindah ke Indonesia Timur.
Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai pelabuhan
internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing seperti
Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang di
Makasar.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 29
Pelayaran dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang
disebut dengan ade’ aloping loping bicaranna pabbalue, sehingga dengan
adanya hukum niaga tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur
dan mengalami perkembangan yang pesat. Selain perdagangan, Makasar juga
mengembangkan kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerahdaerah
yang subur di bagian Timur Sulawesi Selatan.
Kehidupan Sosial Budaya
Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat Makasar adalah
nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan taraf
kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk
menambah kemakmuran hidupnya.
Walaupun masyarakat Makasar memiliki kebebasan untuk berusaha dalam
mencapai kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat
terikat dengan norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan
masyarakat Makasar diatur berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut
pangadakkang. Dan masyarakat Makasar sangat percaya terhadap normanorma
tersebut.
Di samping norma tersebut, masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan
sosial yang terdiri dari lapisan atas yang merupakan golongan bangsawan dan
keluarganya disebut dengan “Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat
kebanyakan disebut “to Maradeka” dan masyarakat lapisan bawah yaitu para
hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.
Dari segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan
benda-benda budaya yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal
sebagai pembuat kapal. Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal
dengan nama Pinisi dan Lombo. Kapal Pinisi dan Lombo merupakan
kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal sampai mancanegara.
Kerajaan Ternate - Tidore
Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah
kepualuan yang terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah
pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang bergunung-gunung serta
keadaan tanahnya subur. Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan
rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai penghasil rempah seperti
cengkeh dan pala.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 30
Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan rempah-rempah yang
terkenal pada masa itu, sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan
rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat Maluku mulai
mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil hutan.
Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon.
Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagangpedagang
yang datang ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang
Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agama
Islam masuk ke Maluku, khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti
Hitu di Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para
Mubaligh (Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal adalah
Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di
maluku sehingga pada abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku.
Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku
baik dari kalangan atas atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai
contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu
Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik,
Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di Maluku banyak berkembang
kerajaan-kerajaan Islam.
Dari sekian banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore
merupakan dua kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan
saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan
ekonomi di kawasan tersebut.
Kehidupan Politik
Kepulauan Maluku terkenal sebagai penghasil rempah-rempah terbesar di
dunia. Rempah-rempah tersebut menjadi komoditi utama dalam dunia
pelayaran dan perdagangan pada abad 15 – 17. Demi kepentingan penguasaan
perdagangan rempahrempah tersebut, maka mendorong terbentuknya
persekutuan daerah-daerah di Maluku Utara yang disebut dengan Ulilima dan
Ulisiwa.
Ulilima berarti persekutuan lima bersaudara yang dipimpin oleh Ternate yang
terdiri dari Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon. Sedangkan Ulisiwa adalah
persekutuan sembilan bersaudara yang terdiri dari Tidore, Makayan, Jailolo
dan pulau-pulau yang terletak di kepulauan Halmahera sampai Irian Barat.
Antara persekutuan Ulilima dan Ulisiwa tersebut terjadi persaingan.
Persaingan tersebut semakin nyata setelah datangnya bangsa Barat ke
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 31
Kepulauan Maluku. Bangsa barat yang pertama kali datang adalah Portugis
yang akhirnya bersekutu dengan Ternate tahun 1512. Karena persekutuan
tersebut maka Portugis diperbolehkan mendirikan benteng di Ternate.
Bangsa Barat selanjutnya yang datang ke Maluku adalah bangsa Spanyol,
sedangkan Spanyol sendiri bermusuhan dengan Portugis. Karena itu
kehadiran Spanyol di Maluku, maka ia bersekutu dengan Tidore.
Akibat persekutuan tersebut maka persaingan antara Ternate dengan Tidore
semakin tajam, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan antara keduanya
yang melibatkan Spanyol dan Portugis. Dalam peperangan tersebut Tidore
dapat dikalahkan oleh Ternate yang dibantu oleh Portugis.
Keterlibatan Spanyol dan Portugis pada perang antara Ternate dan Tidore,
pada dasarnya bermula dari persaingan untuk mencari pusat rempah-rempah
dunia sejak awal penjelajahan samudra, sehingga sebagai akibatnya Paus
turun tangan untuk membantu menyelesaikan pertikaian tersebut.
Usaha yang dilakukan Paus untuk menyelesaikan pertikaian antara Spanyol
dan Portugis adalah dengan mengeluarkan dekrit yang berjudul Inter Caetera
Devinae, yang berarti Keputusan Illahi. Dekrit tersebut ditandatangani pertama
kali tahun 1494 di Thordessilas atau lebih dikenal dengan Perjanjian
Thordessilas. Dan selanjutnya setelah adanya persoalan di Maluku maka
kembali Paus mengeluarkan dekrit yang kedua yang ditandatangani oleh
Portugis dan Spanyol di Saragosa tahun 1528 atau disebut dengan Perjanjian
Saragosa.
Perjanjian Thordessilas merupakan suatu dekrit yang menetapkan pada peta
sebuah garis perbatasan dunia yang disebut Garis Thordessilas yang
membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verdi di
sebelah Barat benua Afrika. Wilayah di sebelah Barat Garis Thordessilas
ditetapkan sebagai wilayah Spanyol dan di sebelah Timur sebagai wilayah
Portugis.
Sedangkan Perjanjian Saragosa juga menetapkan sebuah garis baru sebagai
garis batas antara kekuasaan Spanyol dengan kekuasaan Portugis yang
disebut dengan Garis Saragosa. Di mana garis tersebut membagi dunia
menjadi 2 bagian yaitu Utara dan Selatan. Bagian Utara garis Saragosa
merupakan kekuasaan Spanyol dan bagian Selatannya adalah wilayah
kekuasaan Portugis.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 32
Dengan adanya perjanjian Saragosa tersebut, maka sebagai hasilnya Portugis
tetap berkuasa di Maluku sedangkan Spanyol harus meninggalkan Maluku
dan memusatkan perhatiannya di Philipina.Sebagai akibat dari perjanjian
Saragosa, maka Portugis semakin leluasa dan menunjukkan keserakahannya
untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
Tindakan sewenang-wenang Portugis menimbulkan kebencian di kalangan
rakyat Ternate, bahkan bersama-sama rakyat Tidore dan rakyat di pulau-pulau
lainnya bersatu untuk melawan Portugis. Perlawanan terhadap Portugis
pertama kali dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate, sehingga perang
berkobar dan benteng pertahanan Portugis dapat dikepung. Dalam keadaan
terjepit tersebut, Portugis menawarkan perundingan. Akan tetapi perundingan
tersebut merupakan siasat Portugis untuk membunuh Sultan Hairun tahun
1570.
Dengan kematian Sultan Hairun, maka rakyat Maluku semakin membenci
Portugis, dan kembali melakukan penyerangan terhadap Portugis yang
dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1575. Perlawanan ini lebih hebat
dari sebelumnya sehingga pasukan Sultan Baabullah dapat menguasai
benteng Portugis.
Keberhasilan Sultan Baabullah merebut benteng Sao Paolo mengakibatkan
Portugis menyerah dan meninggalkan Maluku. Dengan demikian, Sultan
Baabullah dapat menguasai sepenuhnya Maluku dan pada masa
pemerintahannya tahun 1570 – 1583 kerajaan Ternate mencapai kejayaannya
karena daerah kekuasaannya meluas terbentang antara Sulawesi sampai Irian
dan Mindanau sampai Bima, sehingga Sultan Baabullah mendapat julukan ‘Tuan
dari 72 Pulau’.
Kehidupan Ekonomi
Secara geografi kerajaan Ternate dan Tidore berkembang sebagai kerajaan
Maritim. Dan hal ini juga didukung oleh keadaan kepulauan Maluku yang
memiliki arti penting sebagai penghasil utama komoditi perdagangan rempahrempah
yang sangat terkenal pada masa itu.
Dengan andalan rempah-rempah tersebut maka banyak para pedagang baik
dari dalam maupun luar Nusantara yang datang langsung untuk membeli
rempah-rempah tersebut, kemudian diperdagangkan di tempat lain. Dengan
kondisi tersebut, maka perdagangan di Maluku semakin ramai dan hal ini
tentunya mendatangkan kemakmuran bagi rakyat Maluku. Tetapi setelah
adanya monopoli perdagangan oleh Portugis maka perdagangan menjadi
tidak lancar dan menimbulkan kesengsaraan rakyat di Maluku.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 33
Kehidupan Sosial Budaya
Dengan berkembangnya Islam di Maluku maka banyak rakyat Maluku yang
memeluk agama Islam terutama penduduk yang tinggal di tepi pantai,
sedangkan di daerah pedalaman masih banyak yang menganut Animisme dan
Dinamisme. Dengan kehadiran Portugis di Maluku, menyebabkan agama
Katholik juga tersebar di Maluku. Dengan demikian rakyat Maluku memilik
keanekaragaman agama.
Perbedaan agama tersebut dimanfaatkan oleh Portugis untuk memancing
pertentangan antara pemeluk agama. Dan apabila pertentangan sudah terjadi
maka pertentangan tersebut diperuncing oleh campur tangan orang-orang
Portugis. Dalam bidang kebudayaan yang merupakan peninggalan kerajaan
Ternate dan Tidore terlihat dari seni bangunan berupa bangunan Masjid dan
Istana Raja dan lain-lain.
D. Pengaruh Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Pada pertengahan abad ke-14, tepatnya tahun 1345 M (746 H), Ibn Batutah,
seorang cendekiawan asal Maroko, mengunjungi Samudera Pasai dalam
perjalanannya ke Cina. Saat itu Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Malik al-
Zahir, putera Sultan Malik al-Shaleh. Batutah menyatakan bahwa Islam telah
disiarkan selama hampir seabad. Ia juga menceritakan tentang kesalehan,
rendah hati, dan semangat keagamaan rajanya, seperti rakyatnya yang
mengikuti madzhab syafi’i (Poesponegoro dan Notosusanto, 1993: 196).
Walaupun ada mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Islam di
Indonesia, ternyata ada juga sebagian masyarakat yang masih terpengaruh
oleh adat istiadat daerahnya sendiri. Misalnya pada masyarakat Lombok ada
sembahyang yang dinamakan waktu telu, yaitu melakukan sembahyang tiga
kali dalam sehari. Ada juga adat bahwa tidak seorangpun perempuan dapat
mewarisi tanah, padahal dalam Islam tidak ada aturan yang mengecualikan
perempuan seperti adat ini. Tentu saja adat tersebut bertentangan ajaranajaran
muslim lainnya.
Perbedaan ini dipicu oleh adanya adat istiadat yang berbeda di masing-masing
daerah. Misalnya juga dalam adat Makuta Alam dari zaman Iskandar Muda di
Aceh, disebutkan tentang kurnia sultan pada hari sebelum puasa kepada
uleebalang po-teu (uleebalang yang tidak berwilayah). Kalau sholat hari raya
idul fitri dan idul adha harus dihadiri oleh sultan.
Di daerah mataram ketika malam hari raya, bedug dipukul bertalu-talu sebagai
tanda datangnya hari raya, dan mendekati hari raya orang-orang sibuk
menyiapkan pakaian baru, sehingga seolah-olah semua orang menjadi tukang
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 34
jahit. Demikian halnya ketika orang ingin menunaikan ibadah haji, maka
mereka harus menyiapkan sesuatu untuk keberangkatan dan menyisihkan
sebagian harta untuk keluarga yang ditinggal dirumah. Hal itu merupakan bukti
akan semangat beragama umat Islam.
Dari penjelasan di atas kiranya dapat diketahui bahwa ada pertalian antara adat
istiadat dan ibadah dalam ajaran Islam. Keduanya saling mempengarui, ada
kalanya syariah yang lebih menonjol, di lain kesempatan adat yang lebih dominan.
Untuk lebih jelasnya berikut ini dijelaskan wujud akulturasi kebudayaan yang
telah berkembang di nusantara dan kebudayaan Islam.
Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid,
makam, dan istana. Untuk lebih jelasnya silahkan Anda simak gambar berikut ini.
Wujud akulturasi dari masjid kuno seperti yang tampak pada gambar memiliki
ciri sebagai berikut:
Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas
semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya
ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk
memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang
ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan
kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat.
Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun
atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau
dekat dengam makam.
Mengenai contoh masjid kuno selain seperti yang tampak pada gambar 3-5
Anda dapat memperhatikan, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan
sebagainya.
Gambar 3.5: Mesjid Kuno
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 35
Ciri-ciri dari Akulturasi pada Bangunan Makam terlihat dari:
makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau
Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.
di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup
atau kubba dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan
antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk
gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan
ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam
dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja.
Contohnya masjid makam Sendang Duwur
Di samping itu, bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal
perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi
arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana
Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).
Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir
relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan
namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar
didapat keserasian. Ukiran ataupun hiasan ditemukan di masjid juga
ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang.
Aksara dan Seni Sastra
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang
aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan
berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab
gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi
tidak menggunakan tandatanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di
samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak
digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.
Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam
adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu –
Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia.
Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari
tulisan/aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab
Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang
berkembang pada jaman Hindu.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 36
Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
• Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh
sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat
ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh
hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah,
Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
• Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai
peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad
Cirebon.
• Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya
Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
• Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena
berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari
baik/buruk. Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di
Melayu dan Pulau Jawa.
Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang
pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam
masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami
keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang
bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.
Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan
seperti halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan
dicandi/ dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.
Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah
mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam
kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon,
wage dan kliwon.
Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan
kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah)
seperti tahun Hijriah (Islam).
Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama
bulan seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa.
Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan
bahasa Arab, dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan.
Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau
tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 37
Rangkuman
• Ada tiga teori tentang masuknya Islam di Indonesia, yaitu teori Gujarat, teori
Makkah dan teori Persia. Menurut teori Gujarat dan teori Persia, Islam
masuk ke Indonesia pada abad ke 13 M, sedangkan menurut teori
Makkah, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M. Meskipun memiliki
perspektif berbeda, masing-masing teori memiliki dasar dan pembuktian
masing-masing.
• Sebagai agama yang paling besar penganutnya di Indonesia, Islam
disebarkan dengan berbagai cara. Sedikitnya ada 6 cara yang bisa
diidentifikasi yakni melewati jalur perdagangan, politik, perkawinan,
pendidikan, kesenian dan saluran tasawuf.
• Dalam perkembangannya, banyak kerajaan-kerajaan Islam yang
berkembang di Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut tersebar ke seluruh
wilayah Indonesia, di antaranya Samudera Pasai di pesisir timur laut Aceh,
dan kerajaan Aceh Darussalam. Di Jawa kerajaan Islam adalah kerajaan
Demak, kerajaan Pajang. Di Kalimantan ada kerajaan Banjar (Kalimantan
Selatan), Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur). Di Sulawesi ada kerajaan
Gowa-Tallo, kerajaan Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sedangkan di
Maluku ada kerajaan Ternate.
• Kebudayaan Islam dapat dilihat pada berbagai seni yang masih ada hingga
saat ini. Kesenian itu di antaranya tampak pada seni bangunan, seni rupa,
dan seni sastra. Di samping itu, berbagai sistem ala Islam, misalnya sistem
pemerintahan dan sistem kalender masih sangat berpengaruh di beberapa
daerah di Indonesia.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 38
Lembar Powerpoint 3.3
PERTANYAAN TERBUKA
Tentang Sejarah
Perkembangan Islam di
Indonesia
Dilanjutkan dengan pemutaran
film
PAKET KE 3 IPS-2:
SEJARAH
PERKEMBANGAN ISLAM
DI INDONESIA
– Memahami sejarah masuknya Islam di
Indonesia
– Mendeskripsikan berbagai perspektif
teori tentang masuknya agama Islam
di Indonesia.
– Menganalisis berbagai cara atau
saluran masuknya Islam di Indonesia
– Mendeskripsikan kerajaan-kerajaan
Islam di Indonesia
– Mendiskripsikan berbagai bentuk dan
perilaku yang merupakan hasil
pengaruh agama dan kebudayaan
Indonesia
Pentingnya Materi
• mahasiswa-mahasiswi
mampu menganalisis
pertumbuhan dan
perkembangan agama dan
kebudayaan Islam dan
pengaruhnya terhadap
masyarakat di Indonesia
KOMPETENSI DASAR
• Pada akhir perkuliahan
diharapkan mahasiswamahasiswi
dapat:
• memahami sejarah masuknya
Islam di Indonesia
• mendeskripsikan berbagai
perspektif teori tentang
masuknya agama Islam di
Indonesia.
INDIKATOR
INDIKATOR (lanjutan)
• menganalisis berbagai cara atau
saluran masuknya Islam di
Indonesia
• mendeskripsikan kerajaankerajaan
Islam di Indonesia, dan
• mendiskripsikan berbagai bentuk
dan perilaku yang merupakan
hasil pengaruh agama dan
kebudayaan Indonesia
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 39
– Sejarah masuknya Islam di Indonesia
yang berisi tentang berbagai
teori dan perspektif tentang
masuknya Islam di Indonesia
– Berbagai saluran masuknya Islam di
Indonesia
– Kerajaan-Kerajaan Islam yang
berkembang di Indonesia
– Bentuk-bentuk pengaruh agama dan
kebudayaan Islam di Indonesia
Materi Pokok LANGKAH-LANGKAH
PERKULIAHAN
1. Pertanyaan eksplorasi
2. Mengapa Materi ini penting
3. Pemutaran Film
4. Komentar Film
5. Diskusi Kelompok Tahap 1
6. Diskusi Kelompok Tahap 2
7. Presentasi
8. Komentar dan Penyampaian materi
9. Team Quiz
10.Refleksi
11.Tindak Lanjut
DISKUSI KELOMPOK
TAHAP 1
1. Mahasiswa-mahasiswi dibagi menjadi 3
kelompok.
2. Kelompok 1 mengerjakan LK 3.1.A
3. Kelompok 2 mengerjakan LK 3.1.B
4. Kelompok 3 mengerjakan LK 3.1.C
5. Setiap anggota kelompok mencatat hasil
diskusi untuk dipresentasikan ke kelompok
lain
DISKUSI KELOMPOK
TAHAP 2
1. Mahasiswa-mahasiswi dibagi menjadi 3
kelompok A, B, C yang merupakan
perwakilan Kelompok 1,2 dan 3 di tiap
kelompok baru.
2. Setiap perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil diskusi
kelompok Tahap 1
3. Anggota yang lain memberi masukan
PRESENTASI
Masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil
kelompoknya
KOMENTAR
DOSEN
DAN
PENYAMPAIAN
MATERI
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 40
PERKEMBANGAN
ISLAM
DI INDONESIA
Sejarah Masuknya
Islam di Indonesia
Teori Gujarat
• Dikenal juga dengan teori India, bahwa agama Islam masuk ke
Indonesia dari Gujarat (Cambay) pada abad 13 M.
• Teori ini berdasar pada
– minimnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam
penyebaran Islam di Indonesia
– adanya hubungan dagang antara saudagar di nusantara dengan
pedagang dari India
– adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh
tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.
• Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF
Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke.
Teori Makkah
• Dikenal dengan teori Arab, bahwa Islam masuk
ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya
berasal dari Arab (Mesir).
• Adapun fakta pendukung teori ini adalah:
– Pada abad ke 7 tepatnya 674, di pantai barat
Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam
(Arab) .
– Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran
mazhab Syafi’i, yang juga banyak berpengaruh di
Mesir dan Mekkah saat itu. sedangkan Gujarat/
India adalah penganut mazhab Hanafi.
– Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al
malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.
• Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van
Leur dan T.W. Arnold.
• Islam masuk ke Indonesia abad 13, dan
pembawanya berasal dari Persia (Iran).
• Adanya kesamaan budaya Persia:
– Adanya peringatan 10 Muharram atau Asyura
atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi
Muhammad.
– Adanya kesamaan ajaran sufi yang dianut Syaikh
Siti Jennar dengan sufi Persia, yaitu Al – Hallaj.
– Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem
mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi
harakat .
– Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim
tahun 1419 di Gresik.
• Teori Persia didukung oleh Umar Amir Husen
dan P.A. Hussein Jayadiningrat
Teori Persia
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 41
3. Kerajaan-Kerajaan Islam
di Indonesia
Peta Kerajaan Islam
Pengaruh Agama dan
Kebudayaan
Islam di Indonesia
Samudra Pasai
• Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang
pertama kali tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara.
Secara pasti, mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini
belum diketahui secara pasti. Akan tetapi berdasarkan naskah tua
yang berjudul Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan
bahwa sebelum Samudra Pasai berkembang, sudah ada pusat
pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada pertengahan abad
ke-9.
• Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah
keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang
mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya
Perlak mengalami kemunduran.
• Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa
lokal yang bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil
mempersatukan daerah Samudra dan Pasai. Dan kedua daerah
tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra Pasai.
Kerajaan Demak
• Sebelum dikenal dengan nama Demak, daerah tersebut dikenal
dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan
daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.
• Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah
seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi), raja
Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka
Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat
penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan
bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan
penyerangan terhadap Majapahit.
• Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan
Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden
Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa
Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di
muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang
luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah
merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi).
• Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola
dan Jepara. Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa
berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra),
sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang
penting bagi kerajaan Demak.
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 42
Kerajaan Banten
• Kerajaan Demak berhasil merebut daerah ujung
barat pulau Jawa yaitu Banten dan Sunda Kelapa, di
bawah pimpinan Fatahillah. Untuk itu daerah
tersebut berada di bawah kekuasaan Demak.
• Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka
daerah Banten diserahkan kepada putranya yang
bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri
menetap di Cirebon, dan lebih menekuni hal
k e a g ama a n .
• Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin,
maka Hasannudin meletakkan dasar pemerintahan
kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai
raja pertama, memerintah tahun 1552 – 1570.
• Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten
sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga
daerahnya strategis dan sangat ramai untuk
perdagangan nasional.
• Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat
melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga
Banten dapat berkembang cukup pesat dalam
berbagai bidang kehidupan.
• Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah
kadipaten yang dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut
diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (JakaTingkir) yaitu raja Pajang
kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi
perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya
kerajaan Pajang.
• Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga
mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal
raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka
Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut.
• Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali
terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya
dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan dari
Raden Trenggono.
• Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang
dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah yang
mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya.
• Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat
diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela
Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya.
Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai
kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram.
• Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan
dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta
s e k a r a n g .
Kerajaan Mataram
• Kerajaan Demak berhasil merebut daerah ujung barat
pulau Jawa yaitu Banten dan Sunda Kelapa, di bawah
pimpinan Fatahillah. Untuk itu daerah tersebut berada
di bawah kekuasaan Demak.
• Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah maka
daerah Banten diserahkan kepada putranya yang
bernama Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri
menetap di Cirebon, dan lebih menekuni hal
k e a g ama a n .
• Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin,
maka Hasannudin meletakkan dasar pemerintahan
kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja
pertama, memerintah tahun 1552 – 1570.
• Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten
sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga
daerahnya strategis dan sangat ramai untuk
perdagangan nasional.
• Pada masa pemerintahan Hasannudin, Banten dapat
melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga
Banten dapat berkembang cukup pesat dalam
berbagai bidang kehidupan.
Gowa-Tallo
• Kerajaan Ternate dan Tidore terletak di kepulauan
Maluku. Maluku adalah kepualuan yang terletak di
antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah
pulaunya ratusan dan merupakan pulau yang
bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur.
• Keadaan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan
rimba, maka daerah Maluku terkenal sebagai
penghasil rempah seperti cengkeh dan pala.
• Cengkeh dan pala merupakan komoditi perdagangan
rempah-rempah yang terkenal pada masa itu,
sehingga pada abad 12 ketika permintaan akan
rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat
Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak
hanya mengandalkan dari hasil hutan.
• Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru,
Seram dan Ambon.
• Dalam rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut,
banyak pedagang-pedagang yang datang ke
Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang
Islam dari Jawa Timur. Dengan demikian melalui
jalan dagang tersebut agama Islam masuk ke Maluku,
khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti Hitu
di Ambon, Ternate dan Tidore.
Ternate-Tidore
• Selain melalui perdagangan, penyebaran Islam di
Maluku dilakukan oleh para Mubaligh (Penceramah)
dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal yaitu
Maulana Hussain dari Jawa Timur yang sangat aktif
menyebarkan Islam di maluku sehingga pada abad 15
Islam sudah berkembang pesat di Maluku.
• Dengan berkembangnya ajaran Islam di Kepulauan
Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas
atau rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai
contohnya Raja Ternate yaitu Sultan Marhum, bahkan
putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah
mempelajari Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik,
Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan demikian di
Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam.
• Dari sekian banyak kerajaan Islam di Maluku,
kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua kerajaan
Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan
saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni
(pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.
Ternate-Tidore (lanjutan)
• Lalu lintas perairan di selat Malaka padat sejak
abad ke-7 M merupakan cikal bakal masuknya
islam melalui saluran ini. Hubungan dagang
antara saudagar Nusantara dengan para
pedangang dari Arab, Persia dan India sejak
abad itu memungkinkan untuk terjadinya
pertukaran tidak hanya urusan bisnis tetapi juga
adanya perasaan saling memahami antara
kepercayaan satu dengan yang lain.
• Apalagi ketika jalur pelayaran sampai ke tanah
Jawa, yang menjadikan proses masuknya Islam
semakin merambah luas. Para pedagang banyak
bermukim di pesisir pantai, bahkan mereka ada
yang mendirikan masjid, sehingga penduduk
Jawa yang saat itu masih belum memeluk Islam
mulai tertarik untuk menganut ajaran agama ini.
Saluran Perdagangan
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 43
SALURAN POLITIK
• Masuknya Islam melalui saluran
ini dapat terlihat ketika Samudera
Pasai menjadi kerajaan, banyak
sekali penduduk yang memeluk
agama Islam.
• Proses seperti ini terjadi pula di
Maluku dan Sulawesi Selatan,
kebanyakan rakyat masuk Islam
setelah raja mereka memeluk
Islam terlebih dahulu. Pengaruh
politik raja sangat membantu
tersebarnya Islam di daerah ini.
SALURAN PERKAWINAN
• Para pendatang biasanya mendirikan
perkampungan biasanya di tepi pantai. Mereka
sering disebut dengan kampung arab —dan masih
terkenal hingga saat ini.
• Dalam perkembangan berikutnya, karena ada
wanita yang keturunan bangsawan yang dinikahi
oleh pedagang itu sehingga mempercepat proses
islamisasi.
• Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat
atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan
Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten,
Brawijaya dengan puteri Campa yang
menurunkan Raden Patah, raja pertama kerajaan
Demak, dan lain-lain.
SALURAN PENDIDIKAN
• Dilakukan melalui pendidikanpendidikan
yang dilakukan oleh
para wali, ulama, kiai, atau guru
agama yang mendidik murid-murid
mereka. Tempat yang paling
pesat untuk mengembangkan
ajaran Islam adalah di pondok
pesantren.
SALURAN KESENIAN
• Pada proses ini yang paling terkenal
menggunakannya adalah para wali yang
menyebarkan agama Islam di Jawa. Salah satu
media pertunjukan yang paling terkenal melalui
pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga, penyebar
Islam di daerah Jawa Tengah adalah sosok yang
sangat mahir dalam memainkan wayang.
• Cerita wayang yang dimainkan berasal dari cerita
Ramayana dan Mahabarata. Dalam memainkan
wayang, selalu disisipkan ajaran-ajaran Islam
sehingga penduduk pribumi mulai akrab dengan
ajaran Islam melalui media ini. Yang paling
manarik dalam pertunjukan ini adalah para
penduduk tidak dipungut biaya ketika mereka
menyaksikan pertunjukan wayang, mereka hanya
diminta untuk melantunkan kalimat syahadat,
sehingga mereka akhirnya masuk Islam dan ikut
mendalami ajarannya
SALURAN TASAWUF
• Para tokoh tasawuf yang biasanya
memiliki keahlian khusus dapat
menarik penduduk untuk memeluk
ajaran Islam. Keahlian tersebut
biasanya termanifestasi dalam
bentuk penyembuhan bagi orangorang
yang terkena penyakit, lalu
disembuhkan. Ada juga yang
termanifestasi sebagai kekuatankekuatan
magic yang memang
sudah sangat akrab dengan
penduduk pribumi saat itu.
TEAM QUIZ
Masing-masing kelompok
mempersiapkan pertanyaan dan
melemparkan ke kelompok lain
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 44
REFLEKSI
Mahasiswa atau mahasiswi
perwakilan masing-masing
kelompok, menyampaikan kesan
dan pesan setelah mengikuti
perkuliahan paket 3 ini.
TINDAK LANJUT
Mahasiswa-mahasiswi ditugasi
untuk menulis makalah tentang:
Pengaruh Islam di lingkungan
Sekitar
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 45
Lembar Penilaian 3.4
Tes Lisan
1. Jelaskan berbagai perspektif teori masuknya Islam di Indonesia!
2. Menurut Saudara/Saudari, di antara teori tersebut manakah yang paling
kuat, jelaskan!
3. Jelaskan berbagai saluran masuknya islam di indonesia!
4. Uraiakan kerajaan-Kerajaan Islam yang berkembang di Indonesia!
5. Sebutkan bentuk-bentuk pengaruh agama dan kebudayaan Islam di Indonesia!
Skor terentang antara: 10-100
Ilmu Pengetahuan Sosial 2
Paket 3 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia 3- 46
Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik (ed.).1991.Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta: Majelis
Ulama Indonesia.
Badri, Yatim. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah
Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono, R.1973.Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid 2 dan 3.
Yogyakarta: Kanisius.
Sudarmanto.Y.B..1996.Jejak-Jejak Pahlawan dari Sultan Agung Hingga Syekh
Yusuf. Jakarta: Grasindo.
Suryanegara, Ahmad Mansur. 1996. Meneruskan Sejarah – Wacana
Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar