Selasa, 21 Desember 2010

PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL

PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL
1. Tinjauan tentang perubahan sosial

Yang di maksut perubahan social adalah yang menyangkut tentang kehidupan manusia yang di dalamnya terdapat mengenai nilai-nilai social, norma-norma sosia,pola-pola prilaku organisasi, susunan lembaga tentang kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, interaksi social dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan manusia yang makin lama makin bersifat global, perubahan itu jelaslah akan di anggap suatu kebiasaan dan merupakan gejala normal. Pengaruhnya bias menjalar dengan cepat ke bagian-bagian dunia lain berkat adanya perkembangan transportasi dan komonikasi modern. Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi yang terjadi di suatu tempat, dengan cepat dapat di ketahui oleh masyarakat lain yang beradah jauh dari tempat tersebut. Terjadinya perubahan social dalam dunia modern dewasa ini, memang tidak dapat di sangkal lagi dan seringkali tidak bias di tolak yang sebagaimana telah di ringkaskan oleh moore sebagai suatu satuan generalisasi (dalam garna, 1992:2-3)
(1). bagi masyarakat atau kebudayaan mana pun, perubahan cepat berlangsung,atau berlaku secara tetap.(2).perubhan-perubahn itu tidaklah bersifat sementara maupun terpencil secara spasial, karena perubhan terjadi dalm rangkaian runtut bukan sebagi krisis sementara yang di ikuti masa rekonstruksi diam-diam, dan akibat perubahan cendrung bergema ke seluruh kawasan atau seluruh dunia. (3).karena perubahan semasa itu munkin berlaku dan akibatnya bermakna di manapun, maka perubahan tersebut memiliki azas ganda.(4).proporsi perubahan semasa berencana, atu isu-isu akibat inovasi yang sengaja dilaksanakan akan lebih tinggi proporsinya di bandingkan pada masa lalu.

Dalam memahami perubahan social dan perubahan budaya tampaknya berlangsung secara terus menerus dan tidak dapat di hentikan, hanya saj tingkat kecepatan dan arahnya sajalah yang berbeda-beda. Tidak ada satupun upaya sejarah yang keberhasilannya dalam menahan perubhan budaya dan menghentikan pengaruh asing dapat berlangsung lama. Memang terdapat perbedaan antara perubahan social dengan perubahan budaya. Perubahan social merupakan perubaha dalam segi struktur social dan hubungan social, sedangkan berubaha budaya mencakup perubaha dalam segi budaya masyarakat, dalam penggunaan kedua istilah tersebut, perbedaan di antara keduanya tidak terlalu di perhatikan karena kedua istilah tersebut seringkali di tukar pakaikan mengingat hampir semua perubahan besar mencakup aspek social dan budaya
.
Jadi perubahn dalam masyarakat bukanlah gejala modern yang istimewa, walaupun pada masa kini berlangsung berbagai krisis kehidupan manusia, perubahan social sebagai asas dalam kehidupan manusia, dengan demikian perubahan mengandung tiga kemunkunan yaitu perubahan social perubahn budaya, atau gabungan dari keduanya.

2. Arti perubahan sosial

Dalam kehidupan masyarakat manusia, ada pandangan segolongan atau sekelompok yang mempunyai rasa membangun di mana selalu menginginkan adanya krmajuan-kemajuan dan perombakan-perombakan sesuai dengan tuntutan zaman. Di samping itu pula,di dukung oleh pandangan segolongn masyarakat yang bersifat optimis yang di artikan sebagai sekelompok masyarakat yang berfaham mempunyai keyakinan bahwa besok di kemudian hari ada kehidupan yang lebih cerah, sehingga di dorong oleh rasa keji iwaan faham optimis tersebut mereka selalu berhati-hati dalam membawa arus masyarakat cenderung untuk maju dan berubah.
Menurut beberapa tokoh arti perubahan social adalah sebagai berikut:
 Gillin john dan john Philip Gillian mengatakan arti perubahan social sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang yang telah di terima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
 Soejono Soekanto dalam memberikan arti perubahan social, masih terikat pada uraian sejarah pemikiran sosiologi tentang perubahan social yang tampaknya memang sulit untuk merumuskan pengertian evolusi, pembangunan dan untuk perkembangan tanpa silang arti sebagai perubahan social untuk semua gejala dengan merujuk kepada pendapat William f. ogburn, dengan mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan social meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial.
 Astrit Susanto, memberikan tekana akan pentingnya pembangunan untuk di terapkan pada gejala social. Ada dua proses social yang dapat di kaitkan dengan pembangunan yaitu: 1. pertumbuhan atau pengembangan pengetahuan.2. pertumbuhan atau perkembangan kemampuan manusia untuk mengedalikan lingkungan alam.
Dengan demikian dapat di kemukakan bahwa arti perubahan social, adalah proses di mana terjadi perubahan struktur masyarakat yang selalu berjalan sejajar dengan perubahan kebudayaan dan fungsi suatu system social, hal ini di namakan “perubhan social hubungan fungsional” karena tiap struktur mendapat dukungan dari nilai-nilai dan norma-norma kebuyaan.

3. Perubahan social: realitas dan proses

Kehidupan manusia adalah proses dari satu tahap hidup ke tahap lainnya, karena itu perubahan sebagai proses dapat menunjukkan perubahan social dan perubahan budaya.
“kehudupan manusia berubah dari hari ke hari ; wujud lahiriyahnya adalah sama, perubahan adalah, dan kadang-kadang kelihata. Konstelasinya itu pun berubah. Apakah perubahan terjadi dalam satu menit atau milyaran tahun, itulah hanyalah persoalan pengukuran manusia belaka, perubahan adalah konstan.

Dalam perubahan,apabila tidak memahamikejadian sebagai kenyataan social dengan tidak melihatnya sebagai suatu kesatuan social yang kurang lebih stabil selama periode tertentu, namun tanpa disadari keadaan tersebut selalu dalam proses. Bila menganalisa struktur masyarakat tertentu dengan mengabaikan kejadian nyata bahwa semua struktur masyarakat tersebut berkembang bagaimanapun baik cepat maupun lambatnya, maka pemahaman tentang proses perubahan social tidak akan memadai.

Dalam pada itu, apabila di nyatakan bahwa realitas itu sebagai proses, tidaklah mengesampingkan tentang pentingnya kontinuitas dalam kehidupan social. Unsure-unsur yang di kembangkan untuk merupakan dalam teori perubahan social, karena teori tersebut harus di dasarkan kepada asumsi bahwa realitas ialah proses, termasuk keterkaitan dan ketergantungan dari berbagai tingkat realitas. Analisis dari proses mengacu pada asumsi bahwa bagian-bagian dalam suatu system social (masyarakat) adalah saling tergantung (interdependen), jika terjadi perubahan pada satu bagian maka bagian lain akan berubah pula. Awal mula perubahan social sebagian besar adalah respons terhadap adanya atau derajat disorganisasi social, atau apabila berlaku ketegangan dalam system social (masyarakat) maka diperlukan penyesuaian yang baru.

4. Teori Makro dalam Perubahan Sosial

Teori perubahan social sebagai ilmu erat hubungannya dengan pertumbuhan ilmu-ilmu social. Teori adalah sebuah penjelasan, dan menurut pengertian yang lebih formal, teori adalah seperangkat pernyataan atau proposisi yang berhubungan secara logis yang menerangkan fenomena tertentu.
Beberapa teori skala besar atau teori makro tentang perubahan social dengan para tokoh pendukungnya dikemukakan sebagai berikut:

a. Teori Evaluasi dan Tokoh-tokoh Pendukungnya
Teori evaluasi social dan kebudayaan mempunyai empat anggapan dasar yaitu: (1) umat manusia itu adalah bagian dari pada alam, dan bekerjasesusui dengan hokum alam pula, (2) hokum alam itu yang menguasai perkembangan, tidak mengalami perubahan sepanjnag zaman, (3) proses alamiah itu bergerak secara progresifdari yang sederhana menuju arah yang lebih komleks, dari yang tidak terorganisasikan menuju kepada yang diorganisasikan secara lengakap, (4) manusia di suruh dunia mempunyai potensi yang sama akan tatapi berbeda secra fundamental dalam perkembangan kuantitatif mengenai intelegensi dan pengalamannya.
Tokoh-tokoh pendukung teori evaluasi dengan karya mereka yang di ringkaskan, antara lain sebagai berikut:
Ibnu Khaldun(1332-1406) adalah seorang sarjana Arab, lahir di Tunis, keturunan keluarga bangsawan yang emang banyak melahirkan sarjana dan tokoh politik ternama.
Auguste Comte (1798-1857) seorang sarjana Perancis, umumnya di kenal sebagai “Bapak Sosiologi”, karna ia menciptakan nama Sosiologi itu.
Herbert Spencer (1820-1903), seorang sarjana Inggris yang menulis buku pertama berjudul “Prinsip-prinsip Sosiologi (Principles of Sociology/1896).
Emile Durkheim (1855-1917), ia seorang anak rahib Yahudi, studi di Perancis dan Jerman serta belajar filsafat di Paris dan memulai kulyah pertama ilmu social ketika studi di Perancis.
Lewis Henry Morgan (1818-1881), seorang ahli antropologi Amerika, orang pertama yang menerapkan ide evolusi pada perkembangan social dan menelusuri evolusi kebudayaan manusia secara berurutan mulai dari tingkat kekejaman, kebiadaban, hingga ke tingkat peradaban (dalam Robert. H Lauer, 1993:389).
Karl Marx (1813-1883), adalah seorang ahli filsafat Jerman yang banyak melewatkan masa hidupnya di Inggris, dan meskipun ia dikategorikan sebagai penganut teori konflik, namun teori perubahannya sangat jelas bersifat evolusioner.
b. Teori Revolusi dan Tokoh-tokoh Pendukungnya
Teori revolusi menyatakan bahwa perubahan social dan kebudayaan pada hakikatnya berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat.

Di tinjau dari sudut pandang revolusi bahwa perubahan social sering berhadapan dengan letupan social bila terdapat: (1) struktur masyarakat yang kondusif antara lain kondisi masyarakat yang structural dan social memperlihatkan perbedaan yang menyolok. (2) adanya ketegangan social, antara lain dimanifestasiakn ketidakharmonisan kelompok social. Ketidakharmonisan mengundang konflik kelompok. (3) kepercayaan bersama (bukan agama) yang di hayati. Dalam masyarakat dan kepercayaan bersama bahwa menjadi pejabat harus kaya atau kekayaan yang di miliki pejabat itu adalah hasil pemerasan korupsi dari harta Negara. (4) kemungkinan mobilisasi. Memudahkan mobilisasi dengan memasuki kelompok yang memperjuangkan nasib organisasi social. (5) kontrok social yang tidak berfungsi. Control social berfungsi mengawasi tindakan penyimpangan atau memapankan status quo.

Tokoh-tokoh pendukung teori revolusi dapat di kemukakan antara lain sebagai berikut:
Mac Iver (dalam I.L. Pasaribu dan B. Simadjuntak. 1982:40) mengklasifikasikan revolusi terdiri dari: (1) revolusi nasional, (2) revolusi kelas.
Vilredo Pareto cs (dalam I.L. Pasaribu dan B. Simadjuntak. 1982:40-41) mengemukakan bahwa revolusi bersifat: (1) Coup d’etat perebutan kekuasaan yang terjadi di pusat. (2) Putch: perebutan kekuasaan yang terjadi di daerah.

c. Teori Siklus dan Tokoh-tokoh Pendukungnya
Cara yang lebih umum dalam menerangkan arah perubahan umat manusia adalah dengan membayangkan sebagai siklus, lingkaran.

Tokoh-tokoh pendukung teori siklus dengan karya mereka yang di ringkaskan, antara lain sebagai berikut:
Pitirim A. Sorokin (1889-1969) adalah seorang ahli sosiologi Rusia yang melihat berbagai lingkaran dalam proses histories. Menurut Sorokin, sejarah sosiokultural merupakan lingkaran yang bervariasi antara ketiga super system yang mencerminkan kultur yang agak homogen. Ketiga system kebudayaan yang di sebut sebagai ketiga super system ini, yaitu: (1) kebudayaan ideasional (adeational cultural) diliputi oleh prinsip atau dasar berpikr yang menyatakan Tuhan sebagai realitas tertinggi dan nilai terbenar. (2) kebudayaan inderawi (idealistis) diliputi oleh prinsip atau dasar berpikir bahwa dunia nyata yang terserap panca indera, adalah realita dan nilai tertinggi, satu-satunya kenyataan yang ada. (3) kebudayaan campuran yaitu yang menggabungkan kedua mentalitas budaya di atas. Artinya, realitas dan nilai, sebagian dapat di serap indra dan sebagian lagi di pandang bersifat transenden, tak terserap oleh alat inderawi.
Arnold Toynbee (1889-1975), seorang sejarawan Inggris, melihat proses kelahiran, pertumbuhan, kemandekan dan kehancuran di dalam kehidupan social. Tak ada peradaban yang terus menerus tumbuh tanpa batas. Umumnya peradaban akan mengalami kehancuran bila elit kreatifnya tak lagi berfungsi secara memadai, mayoritas tak lagi memberikan kesetiaan kepada mereka dan meniru elit, dan bila kesatuan social mengalami perpecahan. Singkatnya gambaran sejarah manusia yang di kemukakan tumbuh, pecah, dan hancur. Keseluruhan proses ini berkaitan erat dengan pelaksanaan fungsi elit dan antar hubungan elit dengan massa rakyat, baik dengan proletariat internal maupun eksternal.
Oswald Spengler (1856-1936) seorang ahli filsafat Jerman, berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses pentahapan kelahiran, pertumbuhan, dan keturunan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahu. Spengler mengemukakan bahwa kewujudan manusia itu dicirikan oleh kemajuan dan kejatuhan, malahan kemusnahan, yang berulang kali.

5. Analisis Perkembangan Teori Makro dalam Perubahan Sosial

Sebagaimana teori-teori yang telah di bahas di muka, merupakan bagian dari tradisi pemikiran sosiologi yang telah berjalan lama dan atau terkenal yang berupaya untuk menerangkan perubahan social.

Pada umumnya suatu teori makro perubahan social mempunyai pusat perhatian utamanya. Beberapa teori perubahan social tersebut, analisisnya cenderung memusatkan perhatian pada satu atau beberapa tingkat perkembangan tertentu dengan memiliki kelemahan dan kecermatannya sebagaimana analisis berikut ini:

a. Analisis Perkembangan Teori Evolusi
Inti teoritis evolusi dalam hal ini evolusi kuno yang menganggap perkembangan evolusi menurut garis lurus memuat ide bahwa bentuk organisasi social paling primitif adalah keluarga patrinilal dan patriarkhat karena laki-laki memperoleh dominasi.
“Evolusi kebudayaan umum…berlangsung dari tranformasi energi yang sedikit ke yang lebih besar, dari tingkat integrasi yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, dan dari kemampuan adaptasi yang kecil ke yang lebih besar. Evolusi khusus, perjalanan sejarah dari kebudayaan menurut berbagai cabangnya”.

b. Analisis Perkembangan Teori Rovolusi
Pada umumnya revolusi didahului oleh adanya ketidakpuasan dari golongan-golongan tertentu, hal mana biasanya telah didahului oleh tersebarnya suatu ide baru. Revolusi itu terjadi apabila selama suatu waktu tertentu harapan akan pemenuhan terus meningkat, sedangkan kebutuhan sesungguhnya yang dapat di capai pada suatu saat tidak menaik lagi atau malah menurun (betapapun kecilnya ) maka akan terjadilah “jurang antara harapan dan pemenuhan kebutuhan” yang makin besar yang pada suatu saat tidak dapat diterima lagi oleh masyarakat. Jadi tegasnya adalah:
“kalau masyarakat hanya mengenal kemiskinan dan kesukaran hidup, maka suatu saat mereka akan memberontak sebagai satu-satunya jalan walaupun salah”.

c. Analisis Perkembangan Teori Siklus
Teori siklus menjadikan peradaban sebagai pusat perhatian utamanya. Bagaimanapun semua teori siklus menarik dan diperkuat oleh banyak anlisis yang terperinci. Namun demikian, upaya untuk mengidentifikasi, menetapkan waktu secara tepat, dan membandingkan beribu gejala yang menunjukkan perubahan dalam bidang seni, sastra, musik, hokum, moral, perdagangan, agama, dan unsure kebudayaan lainnya yang berlangsung ribuan tahun, tidak terlepas dari kemungkinan adanya pilihan dan penerkaan.

d. Analisis Perkembangan Teori Fungsional dan Teori Konflik.
Baik teori fungsional maupun teori konflik tidak termasuk dalam salah satu teori besar (teori makro) yang di singgung terdahulu dimuka. Berbagai teori yang dikemukakan itu mempunyai titik tekan yang berbeda-beda, dan memberikan sumbangan yang berbeda pula bagi pemahaman mengenai perubahan social.

6. Sifat Manusia Menurut Teori Perubahan Sosial

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar